Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Kang Purbaya Baru juga dipuji setinggi langit, eh… kursinya sudah disuruh turun ke bumi. Presiden Prabowo bilang, kalau ada Purbaya, aman. Apa kata Sang koboi malah disepak dari istana.
Purbaya Yudhi Sadewa baru setahun menjabat Menteri Keuangan. Dilantik September 2025 menggantikan Sri Mulyani, ia langsung mendapat julukan “menteri koboi” karena gaya bicaranya blak-blakan, optimistis, dan kadang seperti koboi masuk warung kopi. Ngomong sekali, pasar disuruh tenang.
Prabowo pernah berkata, “Kalau menteri keuangan senyum, saya merasa aman.” Di kesempatan lain lebih dahsyat. “Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kalian khawatir, mau dolar berapa ribu kek.”
Senyum Purbaya akhirnya seperti APBN berjalan. Dolar naik? Senyum. Pasar gelisah? Senyum. Negara pusing? Senyum lagi.
Purbaya sendiri mengaku sengaja “omong gede” untuk mengembalikan ekspektasi pasar setelah demo besar. Ia menyebutnya teori self-fulfilling prophecy. Namun angka rupanya tidak bisa diajak bercanda.
Pertumbuhan ekonomi 5,39 persen pada kuartal IV 2025, naik menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026, lalu turun lagi menjadi 5,29 persen pada kuartal II. Rupiah sempat ambruk. Dua lembaga rating menurunkan outlook dari positif menjadi negatif karena ketidakpastian kebijakan dan rencana belanja. Suntikan likuiditas ke perbankan bahkan memunculkan gesekan dengan Bank Indonesia.
Tetapi Purbaya tetap senyum. Berat badannya pernah turun dari 102 kg menjadi 88 kg karena kerja terlalu berat, lalu naik lagi 97–98 kg. Ekonomi naik turun. Berat badan naik turun. Senyum harus stabil.
Lalu datang episode Whoosh. Utang kereta cepat Jakarta-Bandung sudah direstrukturisasi dengan tenor sampai 80 tahun, cicilan sekitar Rp1 triliun per tahun atau sedikit di bawahnya. Purbaya santai. “80 tahun saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya kita sudah mati, santai saja.”
Masalahnya, mulai 15 September 2026, pengelolaan utang Whoosh dialihkan dari Danantara ke Kementerian Keuangan melalui special mission vehicle di bawah Kemenkeu. “Dulu kesannya tidak mau membebani APBN. Sekarang kok utangnya mulai kenalan dengan Kemenkeu?
Belum selesai Whoosh, 18 gubernur geruduk kantor Purbaya gara-gara pemotongan Transfer ke Daerah. Sejumlah daerah kesulitan membayar gaji ASN dan PPPK, bahkan ada yang terancam tidak bisa beroperasi normal.
Purbaya bilang ruang fiskal terbatas dan wajar kalau daerah tidak senang. Ia membuka peluang penambahan jika penerimaan negara membaik. Ditambah kontroversi usulan biaya di Selat Malaka dan pengumuman mendadak transfer Rp120 triliun dari Danantara.
Pokoknya, kursi Menkeu ini seperti kursi warung kopi. Belum sempat duduk nyaman, sudah ditanya, “Bang, pesan apa?”
Lalu datanglah Senin, 14 September 2026. Pagi hari Purbaya masih rapat di DPD dan mengatakan ekonomi tetap terjaga. Sore hari? Diganti.
Beberapa jam setelah Presiden Prabowo kembali dari India, Suahasil Nazara, wakilnya sendiri, dilantik menjadi Menteri Keuangan baru.
Istana tidak menjelaskan alasan detail. Hak prerogatif Presiden. Namun publik ramai mengaitkannya dengan evaluasi kinerja, kepercayaan investor, pertumbuhan masih jauh dari target 6–8 persen, serta kebutuhan mengembalikan kredibilitas fiskal.
Maka tamatlah episode Menteri Koboi. Kemarin senyum Purbaya dianggap membuat Prabowo aman. Hari ini, senyumnya mungkin masih ada. Cuma kursinya sudah tidak ada.
Nasibmu, Kang Purbaya.
Pelajaran hari ini, jangan terlalu percaya pujian. Di negeri ini, pagi bisa dipuji setinggi langit, sore bisa dilantik penggantinya.
Kalau ada yang bilang, “Selama kamu senyum, semuanya aman,” jangan langsung percaya. Bisa jadi sedang aman bukan kamu. Kursimu sedang diamankan orang lain. Begitulah risiko menteri non partai. Lihat Bahlil, ia pasti tersenyum lebar”
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani













Komentar