Oleh: Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Dr Darmansjah Djumala
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS di New Delhi, India, menghidupkan kembali semangat Bandung (Bandung Spirit).
“Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS dapat dimaknai sebagai upaya untuk menghidupkan kembali Bandung Spirit karena masih memiliki relevansi dalam konstelasi geopolitik dunia dewasa ini. Warisan diplomasi Indonesia itu perlu digaungkan kembali di tengah situasi dunia yang semakin terbelah”, kata Djumala di Jakarta, Selasa (15/09/26).
Pernyataan Djumala itu disampaikan berkaitan dengan pernyataan Presiden Prabowo di KTT BRICS di New Delhi, India, 12-13 September 2026.
Menurut Djumala, pernyataan Prabowo kembali mengingatkan dunia bahwa semangat yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 memiliki makna strategis yang lebih luas daripada sekadar mengenang sejarah.
Ia menjelaskan Bandung Spirit memberi inspirasi bagi negara-negara yang saat itu masih terjajah untuk memperoleh kemerdekaan dan berdiri sebagai mitra yang setara dalam hubungan internasional.
Sejalan dengan pernyataan Presiden, negara-negara terjajah pada masa itu menyadari bahwa suara mereka lemah jika disampaikan secara individual. Namun, persatuan dan solidaritas dapat membuat suara negara-negara berkembang terdengar lebih luas dalam percaturan internasional.
Djumala yang pernah menjabat Duta Besar RI untuk Austria dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai kondisi tersebut menjadi esensi Bandung Spirit yang mencakup kesetaraan, solidaritas, kemandirian, penghormatan terhadap kedaulatan, serta penolakan terhadap dominasi dan ketidakadilan dalam hubungan internasional.
Ia mengatakan Konferensi Asia Afrika 1955 pada dasarnya memiliki kesamaan motivasi dengan perjuangan negara-negara Global South saat ini, termasuk melalui BRICS.
Meski konteks geopolitiknya berbeda, kata Djumala, terdapat benang merah yang sama: keinginan negara-negara berkembang untuk memperkuat posisi tawar, memperluas ruang kerjasama strategis, dan memastikan bahwa tata kelola global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan besar.
Menurut dia, Bandung Spirit 1955 merupakan upaya negara-negara yang baru merdeka untuk memperkuat suara mereka dalam situasi dunia yang didominasi kekuatan kolonial dan berada dalam konteks Perang Dingin.
Sementara itu, gerakan Global South dan BRICS saat ini dinilai menjadi manifestasi dari aspirasi serupa dalam menghadapi ketimpangan struktur ekonomi dan politik global.
Djumala mengatakan KAA 1955 telah membuktikan bahwa ketika negara-negara berkembang bersatu, suara mereka dapat didengar dalam forum internasional seperti PBB.
Ia mengatakan suara Indonesia di belahan bumi selatan hari ini, termasuk melalui BRICS dan berbagai forum Global South, sesungguhnya merupakan kelanjutan dari suara yang pertama kali digaungkan Indonesia melalui Bandung Spirit di Konferensi Asia Afrika 1955.
Ia menilai pernyataan Prabowo mengenai Bandung Spirit dalam KTT BRICS perlu ditindaklanjuti sebagai gagasan strategis dan tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah.
“Pernyataan Presiden Prabowo tentang Bandung Spirit di BRICS patut ditindaklanjuti sebagai gagasan strategis, bukan berhenti sebagai nostalgia sejarah. Salah satu langkah konkret yang dapat dipertimbangkan Indonesia adalah menggagas Konferensi Asia Afrika ke-2 untuk merevitalisasi Bandung Spirit sesuai tantangan abad ke-21,” tutup Djumala.









Komentar