Ketua Umum PDPI DR. Dr. Arif Riadi Arifin paparkan penguatan diagnosis kanker paru saat konferensi pers virtual, Selasa (18/08/26).
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia 2026 mengusung tema “Together Through Lung Cancer” atau “Bersama Melalui / Melawan Kanker Paru”. Lewat pesan kebersamaan ini, PDPI lakukan penguatan diagnosis kanker paru diharapkan mampu mendorong deteksi dini, gaya hidup sehat tanpa rokok, serta penguatan akses layanan medis bagi seluruh pasien dan penyintas.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) melaksanakan konferensi pers virtual dalam rangka memperingati Hari Kanker Paru Sedunia pada Selasa (18/8/2026). Dalam forum tersebut, agenda PDPI penguatan diagnosis kanker paru ditegaskan melalui penetapan tiga pilar utama berbasis bukti guna menekan angka kematian akibat penyakit mematikan ini di Tanah Air.
Langkah tersebut mendesak untuk diterapkan mengingat beban epidemiologis penyakit kanker paru di Indonesia tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data Global Cancer (GLOBOCAN) tahun 2022, tercatat terdapat 2,5 juta kasus baru secara global dengan kontribusi angka kematian mencapai 18 persen.
Di Indonesia, kanker paru menempati posisi kedua dalam insidensi kanker dengan sekitar 38.900 kasus baru, serta menduduki peringkat pertama dalam mortalitas kanker yang menyumbang 14,1 persen dari total kematian akibat kanker.
Pilar PDPI Penguatan Diagnosis Kanker Paru Berbasis Bukti
Ketua Umum PDPI, DR. Dr. Arif Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS, memaparkan tiga pilar utama penguatan diagnosis yang mencakup implementasi algoritma skrining berjenjang, pemanfaatan teknologi terkini, serta penguatan penanda molekuler. Penapisan awal dimulai dengan kuesioner Profil Risiko Paru sebagai instrumen penapis sebelum dilanjutkan ke tahap pemindaian Low-Dose CT Scan bagi kelompok berisiko tinggi.
Integrasi AI Radiologi
Pilar kedua mengintegrasikan Kecerdasan Buatan (AI) dalam interpretasi radiologi untuk membantu penandaan nodul paru yang mencurigakan secara lebih efisien dan akurat. Sementara itu, pilar ketiga berfokus pada pemeriksaan penanda molekuler sebagai penentu terapi target (targeted therapy) dan imunoterapi lini pertama yang sejalan dengan pedoman tatalaksana nasional.
“Penerapan terapi target generasi awal maupun generasi lanjut saat ini terus diupayakan perluasan cakupan penjaminannya melalui kerja sama dengan organisasi profesi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan,” ujar Dr Arief Riadi.
Webinar di moderator oleh Dr. Ungky Agus Setyawan Sp.P(K) lalu Pemaparan Hari Kanker Paru Sedunia oleh: Dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR
Dalam paparannya, dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR., menegaskan beban penyakit ini masih tinggi, tidak hanya dari sisi insiden dan mortalitas, tetapi juga morbiditas yang menurunkan kualitas hidup pasien dan keluarganya.
“Tantangan tersebut semakin kompleks karena kanker paru sering berkembang tanpa gejala spesifik pada fase awal, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit telah berada pada stage lanjut dan memerlukan tata laksana yang lebih kompleks,” ujar dr. Erlang dalam webinar bertema global hari kanker paru sedunia yang tahun ini adalah “Togheter Through Lung Cancer atau Bersama Melewati Kanker Paru.
Menurut dr. Erlang, salah satu persoalan terbesar adalah faktor risiko yang masih sulit dikendalikan, terutama konsumsi rokok dan paparan asap rokok.
Di sisi lain, program skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi belum berjalan secara luas dan terstruktur, sedangkan akses terhadap pemeriksaan untuk deteksi dini juga masih terbatas.
“Akibatnya, kesempatan menemukan kanker paru pada stage awal, ketika terapi dengan tujuan kuratif masih lebih memungkinkan belum dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Ia menekankan penguatan pencegahan, pengendalian tembakau, edukasi masyarakat, serta pengembangan skrining berbasis risiko perlu menjadi bagian integral dari strategi nasional pengendalian kanker paru.
dr. Erlang juga menyampaikan kemajuan dalam pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, serta pemeriksaan biomarker molekular telah memperluas pilihan pengobatan kanker paru.
Namun, karena sebagian besar pasien masih datang pada stadium lanjut, tujuan terapi pada banyak kasus masih berorientasi pada pengendalian penyakit, memperpanjang kelangsungan hidup, mengurangi gejala, dan mempertahankan kualitas hidup, bukan mencapai kesembuhan.
Tantangan lainnya adalah belum meratanya fasilitas diagnostik dan terapi, termasuk pemeriksaan molekular, radioterapi, layanan intervensi, serta ketersediaan dan keterjangkauan obat kanker paru di berbagai wilayah Indonesia.
Together Through Lung Cancer” Tegaskan Pentingnya Kolaborasi
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia memiliki modal penting berupa sumber daya manusia yang terus berkembang. Dokter spesialis paru telah tersebar di berbagai daerah, disertai pengembangan kompetensi melalui fellowship serta keberadaan konsultan yang semakin memperkuat pelayanan kanker paru secara multidisiplin.
“Semangat ‘Together Through Lung Cancer’ menegaskan bahwa perbaikan luaran kanker paru membutuhkan kolaborasi antara pasien, keluarga, tenaga kesehatan, rumah sakit, pemerintah, organisasi profesi, komunitas, industri, dan masyarakat,” tegas dr. Erlang.
Ia menambahkan, dengan bekerja bersama, kita dapat memperkuat pencegahan, memperluas skrining dan deteksi dini, meningkatkan akses terhadap diagnosis dan terapi modern, serta menghadirkan pelayanan kanker paru yang lebih merata, terintegrasi, dan berpusat pada pasien di seluruh Indonesia.







Komentar