Jakarta (B-Oneindonesia.com) –
Selama hampir enam tahun, rakyat Myanmar telah berjuang untuk memulihkan demokrasi setelah kudeta 1 Februari 2021 yang dipimpin oleh Jenderal Min Aung Hlaing untuk menghalangi Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) membentuk pemerintahan setelah kemenangan telak dalam pemilu 2020.
Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, serta pejabat dan aktivis lainnya ditangkap. Dalam hitungan jam, masyarakat dari segala usia turun ke jalan menyuarakan kemarahan mereka, sementara pegawai publik di sektor kesehatan, pendidikan, dan transportasi meluncurkan Gerakan Pembangkangan Sipil (Civil Disobedience Movement/CDM), melakukan mogok kerja untuk melawan kekuasaan militer.
Sejak saat itu, junta militer mengandalkan kekerasan mematikan dan represi untuk mengendalikan negara, namun gagal akibat perlawanan sengit dari kekuatan pro-demokrasi, termasuk Pemerintah Persatuan Nasional (National Unity Government), Pasukan Pertahanan Rakyat (People’s Defense Forces), dan organisasi bersenjata etnis (Ethnic Organizations). Pemilu yang baru-baru ini digelar ditolak sebagai rekayasa yang dirancang untuk memutihkan kejahatan junta dan mengukuhkan kekuasaan otoriter yang bertentangan dengan kehendak rakyat.
Gestur simbolis, klaim Min Aung Hlaing bahwa ia terpilih melalui parlemen bonekanya, serta perubahan hukuman penjara Win Myint dan Aung San Suu Kyi menjadi tahanan rumah, tidak dapat menutupi meningkatnya jumlah korban jiwa, ribuan orang yang masih dipenjara, atau perjuangan yang terus berlangsung demi demokrasi yang sesungguhnya.
Perlawanan rakyat yang tak kunjung padam telah membawa harga yang sangat mahal. Menurut organisasi perlindungan tahanan AAPP, per 10 Juli 2026, 8.153 orang telah dikonfirmasi tewas akibat junta, dan 5.100 orang lainnya masih menunggu verifikasi. Sebanyak 31.418 orang telah ditangkap, dengan 22.391 orang masih ditahan dan 173 orang dijatuhi hukuman mati. Di antaranya, 639 anak telah dipenjara dan 1.086 anak tewas.
Pada bulan yang sama, pusat pemantauan global ACLED mencatat jumlah korban tewas akibat konflik ini jauh lebih tinggi, yaitu lebih dari 100.000 orang. Sementara itu, badan PBB untuk urusan pengungsi UNHCR melaporkan bahwa jumlah pengungsi baik di dalam negeri maupun lintas batas telah melampaui 4 juta orang dan terus bertambah, seiring warga desa melarikan diri dari intensifnya pengeboman dan generasi muda meninggalkan negara untuk menghindari wajib militer paksa.
Komunitas global secara luas telah mengecam kudeta tersebut, namun gagal bertindak, dengan menyerahkan tanggung jawab respons kepada ASEAN. Namun, ASEAN hanya menghasilkan rencana damai Five-Point Consensus (Lima-Poin Konsensus) yang hingga kini belum terpenuhi, serta mengecualikan pimpinan junta dari pertemuan-pertemuan resmi.
Seiring perdebatan yang semakin memanas mengenai kemungkinan mengembalikan pemimpin junta Min Aung Hlaing menyusul klaimnya atas transisi menuju pemerintahan sipil, pameran foto Coup Years—yang pertama kali digelar di Bangkok, Thailand oleh SEA Junction—kini melakukan tur ke Indonesia dalam rangka kerjasama dengan AJAR, Humanis, MIgrant Care dan Dia.lo.gue
Di Jakarta, tempat Sekretariat ASEAN berada, untuk memberi informasi kepada publik dan melibatkan perwakilan ASEAN mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar. Dibuka pada 26 September 2026, The Coup Years: A Visual Chronicle of Resistance in Myanmar (dalam bahasa Indonesia Masa Kudeta: Kronik Visual Perlawanan di Myanmar) akan dipamerkan di ruang seni Dia.lo.gue selama dua minggu.
Dikurasi oleh Yit, Jeje, dan Rosalia Sciortino, pameran ini menampilkan foto-foto yang diambil antara tahun 2021 hingga Agustus 2026, terutama oleh fotografer Myanmar, yang menangkap jangkauan geografis dan keberagaman tematik perlawanan rakyat.
Dalam versi yang disesuaikan ini, kelompok fotografer telah berkembang melampaui empat fotografer awal, Ko Kaung, Loki, Phoenix, dan Sis Min Naing, menjadi kolektif fotografer yang berkomitmen kebanyakan dari Myanmar dan beberapa dari negara lain. Bersama mereka mencakup Alien; Ants Are Always Busy (AAAB); Aung Khant Zaw (AKZ); Chindwin Riverside Village Strike Committe; Mar Naw; Mayco Naing; Mikoshiba Yato, Paschal Zayar dan Thomas Lynn dari Visual Rebellion; Myanmar Community in Japan, Naphat Kongchan, Salingyi Letpadaung Taung Committee;; Ta Mwe; Yangon Revolution Force; Yar Zar Tun; dan Yit.
Selama dua minggu, acara pameran akan menampilkan foto-foto yang diambil dari tahun 2021 hingga Agustus 2026, kebanyakan oleh fotografer Myanmar, yang menangkap luasnya jangkauan sfilm yang mengulas situasi Myanmar dan peran ASEAN dalam manajemen konflik, solidaritas transnasional di kalangan masyarakat sipil Asia Tenggara, pusat penipuan siber dan perdagangan manusia serta strategi-strategi untuk melawan menyempitnya ruang sipil dan menentang otoritarianisme, militerisme, dan impunitas.
Melalui seni, dokumentasi, dan diskusi, The Coup Years menantang penghapusan ingatan, melawan ketidakadilan, dan berdiri dalam solidaritas bersama rakyat Myanmar dalam perjuangan mereka menuju demokrasi. Pameran ini tidak dimaksudkan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dikenang dan dirasakan, mempertanyakan kekuasaan dalam kaitannya dengan keadilan dan martabat manusia.
Kurator:
Yit, Ji Ji, dan Rosalia Sciortino
Fotografer:
Alien; Ants Are Always Busy (AAAB); Aung Khant Zaw (AKZ); Chindwin Riverside Village Strike Committe; Ko Kaung; Loki; Mar Naw; Mayco Naing; Mikoshiba Yato, Paschal Zayar dan Thomas Lynn dari Visual Rebellion; Myanmar Community in Japan, Naphat Kongchan, Phoenix, Salingyi Letpadaung Taung Committee; Sis Min Naing; Ta Mwe; Yangon Revolution Force; Yar Zar Tun; dan Yit.
Jadwal Pameran:
Tanggal & Waktu
Kegiatan
Pembicara
Moderator
Catatan Bahasa
26 September
17:00-21:00
Acara Pembukaan & Panel Diskusi mengenai Myanmar dan ASEAN
Mercy Chriesty Barends
(Anggota MPR/Dewan ASEAN Parliamentarians for Human Rights)
Anita Wahid
(AICHR)
Debbie Stothard (ALTSEAN)
Rosalia Sciortino
(SEA Junction)
Dengan penerjemahan Indonesia-Inggris
30 September
18:00-21:00
Pemutaran Film & Diskusi “Myanmar Diaries”
Galuh Wandita (AJAR)
Kelana Wisnu
(Wartawan/Sutradara dokumentair)
Nany Afrida (AJI)
Film dalam bahasa Inggris dengan subtitel bahasa Indonesia – Diskusi bahasa Indonesia
4 Oktober
15:00-18:00
Pemutaran Film & Diskusi “Neraka Perbatasan”
Fajar Nugroho
(deduktif.id)
Safina Maulida
(Collective Resister)
Wahyu Susilo
(Migrant Care)
Film dan diskusi dalam bahasa Indonesia
7 Oktober
18:00-21:00
Pemutaran Film & Diskusi “Thabyay; Creative Resistance in Myanmar”
Jeanne Hallacy
(Director)
Tazia T. Darryanto
(Humanis)
TBC
Bolby Nasution
(Humanis)
Film dalam bahasa Inggris. Diskusi campur bahasa Inggris dan Indonesia
10 Oktober
17:00-20:00
Diskusi Buku “Aung San Suu Kyi” & “Living the Coup”
Mon Mon Myat
(Penulis “Aung San Suu Kyi”)
Rosalia Sciortino
(Co-editor “Living the Coup”)
Sonia Hellen (?)
(Wartawan Kompas)
Diskusi dalam bahasa Inggris
11 Oktober
15:00-18:00
Acara Penutupan dan Pemutaran “A Long Way Panglong”
Mon Mon Myat
(Produser)
Marzuki Darusman
(Dewan Penasihat Khusus untuk Myanmar, SAC-M)
TBC
Indria Fernida
(AJAR)
Film dengan subtitel dalam bahasa Inggris. Diskusi campur bahasa Inggris dan Indonesia
Penyelenggara dan Mitra:
SEA Junction, sebuah Yayasan asal Thailand yang berlokasi di Ruang 407-8 BACC, bertujuan untuk membangun pemahaman dan apresiasi terhadap Asia Tenggara dalam seluruh dimensi sosial-budayanya, mulai dari seni dan gaya hidup hingga pembangunan dan hak asasi manusia.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.seajunction.org.
Dia.lo.gue Artspace adalah ruang yang didedikasikan untuk seni dan desain yang berlokasi di Jakarta, dengan nama yang berarti “Dia.Kamu.Saya” dalam bahasa Betawi. Selain ruang pameran, tempat ini juga memiliki rumah makan dan toko kerajinan dan buku kecil. IG: @Dia.Lo.Gue.
Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial atau Humanis adalah organisasi nirlaba berbasis di Jakarta yang bekerja di kawasan Asia Tenggara untuk membangun masyarakat yang adil, berkelanjutan, dan inklusif. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://humanis.foundation/
Asia Justice and Rights (AJAR) adalah organisasi nirlaba berbasis di Jakarta yang bertujuan untuk berkontribusi pada penguatan hak asasi manusia dan pengurangan impunitas yang mengakar di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di negara-negara yang tengah mengalami masa transisi dari konteks pelanggaran HAM berat menuju demokrasi. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.asia-ajar.org.
Migrant Care (Serikat untuk Kedaulatan Buruh Migran Indonesia) berfokus pada advokasi hak-hak buruh migran, dengan visi memperkuat gerakan buruh migran sebagai bagian dari gerakan sosial yang lebih luas. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://migrantcare.net/







Komentar