Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkap logika strategis diplomasi pertahanan Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Hal yang sama juga melatari keputusan Presiden Prabowo masuk Board of Peace bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan berencana mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza Palestina.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip melalui unggahan media sosial resmi koalisi pada Rabu (11/3/2026), Dasco membeberkan isi pembicaraan pribadinya dengan Prabowo mengenai motivasi di balik pengerahan militer Indonesia ke zona merah tersebut.
“Saya waktu itu bertanya, ‘Pak kenapa sih, Pak?'” tanya Dasco kepada Prabowo perihal masuk BoP.
Pertanyaan ini mewakili rasa penasaran publik mengenai risiko besar yang diambil Indonesia dengan terjun langsung ke wilayah pendudukan.
Strategi “Take Over” Posisi Pasukan Israel
Berdasarkan penjelasan Prabowo kepada Dasco, misi ini memiliki tujuan teknis yang sangat spesifik, yakni secara fisik menggantikan kehadiran tentara Israel di zona-zona pemukiman atau wilayah yang selama ini menjadi pusat ketegangan.
Prabowo menekankan kehadiran pasukan Indonesia adalah solusi nyata untuk menciptakan ruang aman bagi warga Palestina.
Ia mengatakan, Prabowo kemudian menjelaskan bahwa wilayah yang akan dimasuki bukanlah zona kosong melainkan wilayah yang saat ini masih dalam kendali militer lawan.
“Kamu tahu tidak? Zona-zona yang akan kita masuki itu bukan wilayah kosong. Itu dikuasai tentara-tentara Israel,” kata Dasco menirukan penjelasan presiden.
Logika di balik strategi ini, lanjut Dasco, adalah agar pasukan Indonesia dapat secara langsung mengambil alih fungsi perlindungan terhadap masyarakat Palestina.
Dengan kehadiran pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia yang memiliki reputasi internasional yang baik, diharapkan intensitas kekerasan dapat ditekan secara signifikan.
“Jadi, kalau kita kirim TNI, pasukan Israel akan keluar dari sana. Otomatis kita yang menjaga saudara kita di sana,” kata Dasco.
Mengakhiri Era “Omon-Omon” dalam Diplomasi
Selama ini, kritik terhadap dukungan negara-negara dunia terhadap Palestina sering kali tertuju pada minimnya tindakan nyata di lapangan.
Istilah “omon-omon” atau sekadar bicara tanpa aksi, yang sempat viral dalam kontestasi politik sebelumnya, kini digunakan Prabowo sebagai pemantik untuk melakukan perubahan nyata dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Menurut Dasco, Prabowo berpandangan tanpa keterlibatan langsung, upaya Indonesia tidak akan membuahkan hasil nyata dan hanya akan sebatas retorika.
Indonesia ingin memecah kebuntuan dari negara-negara Islam lainnya yang selama ini masih ragu-ragu untuk bertindak secara militer di bawah payung perdamaian internasional.
“Kalau kita di luar, hanya omon-omon, tidak bisa berbuat. Negara-negara Islam lainnya, masuk-keluar, masuk-keluar, menunggu Indonesia itu. Karena, akhirnya Pak Prabowo mengatakan ‘Oke, bismillah kita masuk,'” tutur Dasco.
Keberanian Indonesia untuk menjadi “pemecah ombak” ini dinilai akan memicu gelombang dukungan serupa dari negara-negara mayoritas Muslim lainnya.
Posisi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan populasi Muslim terbesar di dunia memberikan legitimasi moral yang kuat dalam misi kemanusiaan ini.
Salah satu poin menarik yang diungkapkan Dasco adalah mengenai bagaimana figur Prabowo Subianto diterima oleh pihak-pihak yang bertikai, khususnya bangsa Palestina.
Prabowo menyadari bahwa kehadirannya dan pasukan Indonesia membawa rasa percaya (trust) yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain.







Komentar