Sidang Etik Mahkamah Partai Gerindra digelar di DPP Gerindra Jakarta Selatan, dipimpin M. Maulana Bungaran bersama anggota majelis seperti Fikrah Auliarrahman dan Yunico Syahrir, Jumat (15/05/26)
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Publik awalnya mengira Jumat, 15 Mei 2026 bakal jadi hari eksekusi politik. Netizen sudah siap pesta. Warga Jember menunggu dengan mata merah penuh harapan. Orang-orang membayangkan ada palu sidang yang diketuk keras lalu terdengar kalimat sakral, “Dipecat!”
Tapi ternyata Indonesia memang negeri penuh plot twist murahan. Setelah sidang etik Mahkamah Partai Gerindra digelar di DPP Gerindra Jakarta Selatan, Achmad Syahri Assidiqi (RA Syahri) memang dinyatakan terbukti melanggar AD/ART partai. Lengkap. Pasalnya juga bukan kaleng-kaleng. Pasal 16 ayat (2) tentang menjaga nama baik partai. Pasal 67 ayat (5) soal sumpah kader menjaga kehormatan partai. Sampai Pasal 68 tentang jati diri kader yang harus sopan, disiplin, dan rendah hati.
Kalau dengar pasal-pasal itu dibacakan, auranya seperti mau ada pemakaman karier politik nasional. Publik sudah membayangkan kursi DPRD Jember dibersihkan pakai sapu lidi. Tapi yang keluar malah kalimat paling antiklimaks dalam sejarah kemarahan netizen,
Rakyat langsung terasa seperti habis beli tiket konser metal, tapi yang tampil grup senam lansia. Padahal kasusnya sudah bikin publik naik darah. Dalam rapat Komisi D DPRD Jember tanggal 11 Mei 2026 yang membahas stunting dan kesehatan masyarakat, RA Syahri viral karena ketahuan main game sambil merokok. Ini bukan rapat panitia lomba gaple kampung. Ini rapat soal masa depan anak-anak. Tentang gizi buruk. Tentang kesehatan rakyat. Tapi yang muncul malah suasana seperti tongkrongan rental PS habis magrib.
Video itu meledak ke mana-mana. Netizen ngamuk seperti disiram minyak goreng panas. Orang-orang merasa dihina. Wakil rakyat yang digaji untuk serius membahas persoalan masyarakat malah terlihat santai seperti lagi nunggu ayam geprek matang.
Lalu Gerindra bergerak cepat. Surat pemanggilan resmi nomor 05_012/A/MK-GERINDRA/2026 keluar. Publik mulai berharap. Wah, ini pasti bakal brutal. Akhirnya ada juga politisi yang dihukum serius.
Sidang digelar pukul 14.00 WIB di Ruang Sidang DPP Gerindra, Jl. Harsono RM No. 54, Ragunan, Jakarta Selatan. Dipimpin M. Maulana Bungaran bersama anggota majelis seperti Fikrah Auliarrahman dan Yunico Syahrir. Dan Syahri hadir didampingi Ketua DPC Gerindra Jember Ahmad Halim. Pakai kemeja safari putih dan celana krem. Rapi sekali. Terlalu rapi untuk seseorang yang sedang dibakar publik hidup-hidup di media sosial.
Lalu datang momen paling tragis sekaligus lucu di republik ini. “Saudara Achmad Syahri Assidiqi, dalam keadaan sehat?” “Sehat.” Ya jelas sehat. Yang sakit itu kepercayaan publik.
Sidang berlangsung tertutup. Media diminta keluar. Publik makin penasaran. Orang-orang membayangkan di dalam sana mungkin ada gebrakan meja, suara marah, ancaman pemecatan, atau minimal sandal partai melayang. Ternyata tidak.
Hasil akhirnya cuma teguran keras dan terakhir. Bonus ancaman, kalau mengulangi lagi, baru direkomendasikan diberhentikan sebagai anggota DPRD Jember.
Netizen langsung meledak. “Kalau rakyat kecil begitu mungkin sudah dipecat sebelum duduk.” “Teguran doang? Besok main game lagi tinggal minta maaf.” “Ini wakil rakyat atau admin warnet?”
Yang paling sadis justru pertanyaan sederhana warga, “Siapa yang milih dia?” Pertanyaan itu menghantam demokrasi seperti kursi plastik dilempar emak-emak pasar.
Sebagian memang mencoba membela putusan ini. Katanya partai sudah tegas karena ada ancaman pemberhentian kalau mengulangi. Masalahnya rakyat sekarang alergi dengan kata “terakhir.” Di negeri ini, “terakhir” sering lebih panjang dari sinetron ijazah. Teguran terakhir, peringatan terakhir, kesempatan terakhir, tapi karier politik tetap sehat walafiat seperti dispenser kantor.
Publik sebenarnya bukan cuma marah soal game dan rokok. Mereka marah karena merasa wakil rakyat kini terlalu santai memperlakukan penderitaan rakyat. Saat stunting dibahas, yang muncul malah vibes bocah mabar rank.
Hari ini rakyat akhirnya sadar satu hal pahit, ternyata marwah lembaga, sumpah kader, kehormatan partai, kemarahan publik, dan ribuan komentar netizen kadang ujungnya cuma berubah jadi satu hukuman yang bunyinya galak, tapi efeknya seperti diketuk pakai bantal. “Teguran keras dan terakhir.”
“Bang, nampaknya netizen kalah kali ini. Berharap dipecat, cuma dapat hukuman teguran keras.”
“Kalah untuk menang ! Paling tidak kita sudah berjuang ingin membersihkan lembaga rakyat dari aib memalukan itu. Tetap perkuat barisan, agar otak tetap encer dan waras.”













Komentar