Dewan Pakar BPIP Darmansyah Djumala
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala menilai kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi ke Beijing membuka peluang bagi peredaan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
“Kunjungan Menlu Iran, Abbas Araghchi ke Beijing memberikan harapan adanya potensi peredaan ketegangan di Selat Hormuz antara AS dan Iran. China punya modalitas politik, militer, dan ekonomi untuk berperan sebagai pihak yang menengahi konflik AS-Iran,” kata Djumala.
Menurut Djumala, kunjungan tersebut menjadi langkah diplomatik pertama Iran ke Cina sejak pecahnya perang AS-Iran pada 28 Februari 2026.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi, kedua pihak membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional, termasuk situasi Timur Tengah yang memanas.
Djumala mengatakan, konflik yang dipicu serangan udara AS-Israel terhadap target militer dan pemerintahan Iran, lalu dibalas Iran dengan serangan rudal, drone, serta penutupan Selat Hormuz, telah mengganggu perdagangan global. Dalam perspektif BPIP, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diplomasi dan dialog antarnegara untuk menjaga stabilitas dunia.
“China sebagai importir minyak utama Iran dan sekutu dekat memiliki daya tekan politik, militer dan ekonomi terhadap Iran. China bisa memainkan pengaruhnya itu untuk meredakan ketegangan antara kedua negara,” ujarnya.
Ia menilai, Iran tengah memperkuat posisinya melalui aliansi dengan Cina untuk menghadapi tekanan unilateral Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Djumala juga mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dan blokade laut di Teluk Oman akan berdampak signifikan terhadap perdagangan dan distribusi energi global.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu ketidakstabilan ekonomi dunia akibat kenaikan harga minyak.
Djumala berharap pertemuan Menteri Luar Negeri Iran dan Cina menghasilkan kesamaan pandangan terkait pentingnya menjaga jalur energi dunia tetap terbuka.
“Dalam konteks itu saya melihat China berpotensi berperan sebagai mediator, sebab China pernah menghimbau agar Iran mendengarkan suara internasional soal Selat Hormuz. Apalagi memang ada rencana Presiden Trump berkunjung ke China pertengahan Mei ini. Dunia berharap pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Jinping nanti memberikan secercah harapan bagi peredaan ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah, khusunya di Selat Hormuz,” tutupnya.







Komentar