Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029

Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Analis Politik dan Militer, Selamat Ginting, mengungkap adanya “kompetisi halus” antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Gibran dinilai tengah gencar melakukan manuver politik untuk membangun kekuatan sebagai persiapan pada Pilpres 2029.

Selamat Ginting menyebut salah satu indikasi persaingan elite ini terlihat dari upaya Gibran menarik tokoh-tokoh Partai NasDem ke PSI, di saat Prabowo justru sedang merangkul Surya Paloh masuk ke koalisi besar pemerintah.

“Ini bisa dibaca sebagai apa? Kompetisi halus di dalam koalisi pemerintahan Prabowo sendiri antara Presiden dengan Wapres. Ada kompetisi di sini,” ujar Selamat Ginting dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (14/4/2026).

Selamat Ginting juga menyoroti rencana pemindahan kantor Wakil Presiden ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menilai langkah tersebut merupakan situasi simalakama bagi Gibran yang merasa akan dijauhkan dari pusat dinamika politik di Jakarta.

“Ini menurut saya juga menjadi persoalan bagi Gibran. Artinya dia merasa akan dibuang ke sana. Ini kan menunjukkan simalakama juga bagi Jokowi dan juga bagi Gibran. ‘Kalau lu nggak mau, berarti Anda menolak karya bapakmu yang rencananya yang ingin membangun IKN’,” jelasnya.

Manuver Isu HAM 

Manuver lain yang dianggap sebagai upaya “pecah kongsi” adalah sikap Gibran yang tiba-tiba vokal soal isu Hak Asasi Manusia (HAM).

Dorongan Gibran untuk menggunakan hakim ad hoc dalam kasus aktivis KontraS, Andrie Yunus dinilai Selamat Ginting sebagai upaya mendelegitimasi TNI, institusi yang menjadi basis kekuatan Prabowo.

“Sejak kapan tiba-tiba seorang Gibran berbicara dalam konteks HAM dan segala macam? Nggak pernah ada,” tuturnya.

Selamat Ginting juga menyinggung soal pernyataan Gibran tersebut yang tidak disampaikan secara lisan, melainkan melalui rilis resmi. Ia menduga ada tim di balik layar yang memang merancang strategi agar Gibran terlihat responsif dan populis demi keluar dari bayang-bayang elit di lingkaran Prabowo.

“Manuver Gibran ini menurut saya bisa dipersepsikan publik dia sedang mendelegitimasi TNI di dalam kasus ini. Artinya Gibran sudah ingin bisa berhadap-hadapan dengan TNI di mana Prabowo background-nya di situ,” tambahnya.

Puncaknya, kata Selamat Ginting, adalah pembentukan basis relawan di 34 provinsi. Ia memandang hal tersebut sebagai bukti nyata persiapan Gibran menghadapi 2029.

Selamat Ginting bahkan menyebut Gibran berpotensi mengambil keuntungan politik dari narasi-narasi yang mencoba menggoyang kepemimpinan Prabowo saat ini.

“Gibran tentu bisa menunggangi isu turunkan Prabowo itu. Jadi ini memang sudah ada pertarungan antara Prabowo dengan Gibran. Contoh itu tadi dengan membentuk 34 relawan itu kan nyata-nyata bahwa dia bersiap menantang Prabowo di Pilpres 2029,” pungkasnya.

Strategi senyap Gibran incar kursi  Presiden saat Prabowo pontang- panting dan jadi sasaran tembak

Ada anomali yang dipertontonkan Istana belakangan ini. Prabowo jungkir balik menyiasati krisis global dan serangan bertubi² atas berbagai kebijakannya di dalam negeri. Di sisi lain, Gibran duduk tenang dan nyaman, tapi sambil memainkan strategi senyap.

Relawan Gibran dideklarasikan di 34 provinsi. Dia juga mainkan para influenser dan buzzer yang dianggap pengendali narasi publik. Adiknya berjibaku lewat PSI ke seantero negeri. Dan, bapaknya yang runner up koruptor kelas dunia versi OCCRP, terus cawe². Targetnya, kursi presiden. Syukur² sebelum 2029.

Pertanyaannya, apa Prabowo menyadari semua itu? Apa sudah disiapkan langkah² Antisipasinya? Kalau belum atau tak ada. (Edy Mulyadi)

Komentar