Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Rencana mutasi dan rotasi perwira tinggi TNI yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026 dinilai akan menjadi salah satu keputusan strategis Presiden Prabowo Subianto. Posisi Panglima TNI menjadi salah satu jabatan yang mendapat perhatian karena berpengaruh besar terhadap arah organisasi militer.
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menilai Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali sebagai figur yang layak dipertimbangkan jika terjadi pergantian Panglima TNI.
“Dari perspektif profesionalisme militer, senioritas, pengalaman, dan keseimbangan antarmatra, nama Laksamana Muhammad Ali merupakan figur yang paling layak dipertimbangkan sebagai Panglima TNI berikutnya,” kata Ginting, Sabtu 8 Agustus 2026.
Muhammad Ali merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut 1989 dan kini berusia 59 tahun empat bulan. Ia disebut sebagai perwira tinggi bintang empat paling senior di lingkungan TNI.
Ali memperoleh pangkat bintang empat lebih dahulu dibandingkan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAU Marsekal M. Tonny Harjono, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, serta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Menurut Ginting, senioritas bukan satu-satunya pertimbangan dalam promosi jabatan militer. Namun, faktor tersebut tetap dinilai penting dalam menjaga legitimasi, rasa keadilan, dan stabilitas internal organisasi.
Muhammad Ali telah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut sejak Desember 2022 setelah menggantikan Laksamana Yudo Margono.
“Artinya, Ali telah memimpin Angkatan Laut selama hampir empat tahun, tepatnya sekitar tiga tahun delapan bulan,” kata Ginting.
Ginting menilai masa kepemimpinan tersebut telah memberikan ruang yang cukup bagi Muhammad Ali untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinan strategis sebelum dipertimbangkan memimpin TNI secara keseluruhan.













Komentar