Peta kekuatan politik nasional kembali tergambar lewat rilis survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) edisi Oktober 2026.
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Hasil menunjukkan posisi Presiden Prabowo Subianto yang masih perkasa mendominasi bursa calon presiden, sementara nama Anies Baswedan menempel ketat sebagai penantang terkuat.
Dalam simulasi pertanyaan terbuka (top of mind), Prabowo memimpin kokoh di puncak dengan elektabilitas mencapai 31,6 persen. Posisi kedua ditempati oleh Dedi Mulyadi dengan 11,4 persen, disusul Anies Baswedan sebesar 10,1 persen. Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di posisi keempat dengan angka 6,9 persen.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menjelaskan bahwa survei ini memotret persepsi publik melalui berbagai simulasi jika pemilihan presiden digelar saat ini.
“Ini pertanyaan simulasi apabila pilpres digelar hari ini,” ujar Adi Prayitno saat memaparkan hasil risetnya pada Minggu (18/10/2026).
Dinamika menarik terlihat saat peta persaingan dipersempit ke dalam simulasi lima nama. Prabowo makin mengukuhkan dominasinya di angka 40,5 persen. Namun, Anies Baswedan melonjak ke urutan kedua dengan 17,7 persen.
Kejutan terjadi di posisi ketiga di mana Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melesat meraih 14 persen, mengungguli Gibran Rakabuming Raka yang tertahan di angka 12,2 persen. Sementara Pramono Anung mengantongi 3,9 persen.
Ketajaman persaingan kian mengkristal pada simulasi tiga nama. Angka dukungan Prabowo naik menjadi 41,5 persen, sementara Anies makin menempel ketat di angka 21,8 persen, dan Pramono Anung meraih 6,7 persen. Menariknya, terdapat 30,1 persen responden yang menyatakan belum menentukan pilihan (undecided voters).
Konklusi dari temuan PPI ini mengindikasikan bahwa meski Prabowo Subianto tetap memegang kendali elektoral yang kuat sebagai petahana, ruang dinamika politik masih sangat terbuka lebar.
Melonjaknya elektabilitas Anies Baswedan saat nama-nama dipersempit, ditambah tingginya pemilih yang belum menentukan sikap, menandakan bahwa konstelasi dukungan publik masih berpotensi bergeser dinamis jelang agenda politik mendatang.











Komentar