Jakarta (B-Oneindonesia.com) – SURVEI Litbang Kompas dengan sebuah pertanyaan: “Masihkah Publik Percaya kepada Media Arus Utama” menarik perhatian saya.
Disebutkan di tengah bejibunnya media sosial dan konten-konten akal imitasi ternyata media arus utama masih mendapat kepercayaan publik.
Setidaknya demikian hasil yang terekam dari hasil survei Litbang Kompas pada April 2026.
Selanjutnya seperti dikutip dari kompas.id, kepercayaan yang diberikan publik kepada media arus utama menjadi modal sosial yang kuat dalam keberlanjutan jurnalisme berkualitas.
Kepercayaan publik itu hadir bukan semata-mata melihat nama besar perusahaan pers tetapi terus dirawat dengan keberadaan media arus utama sebagai pemegang fungsi kontrol sosial dan transmisi pengetahuan.
Masih terkait hasil survei Litbang Kompas tersebut. Misalnya saja dalam mengikuti kabar peristiwa daerah dan nasional ternyata responden sebanyak 44,0 persen lebih mempercayai media arus utama disusul influencers media sosial 6,4 persen, informasi dari lembaga pemerintah terkait 20,9 persen, keluarga teman orang sekitar 17,6 persen dan tidak ada yang dipercayai 7,2 persen serta tidak tahu/tidak jawab 3,9 persen.
Sementara tren kepercayaan terhadap media arus utama pada Juli 2025 mencapai 48,7 persen, September 2025 sebanyak 51,6 persen, Januari 2026 sekitar 49,1 persen dan April 2026 sebanyak 44,0 persen.
Berkaca dari hasil survei itu paling tidak menggambarkan bahwa di tengah serbuan media sosial termasuk di dalamnya influencers ternyata publik tetap percaya terhadap media arus utama.
Apakah hasil survei Litbang Kompas ini bisa saja mengaminkan apa yang dikatakan Tim Gleason, pakar jurnalistik dan mantan Dekan School of Journalism and Communication, Universitas Oregon, Amerika Serikat yang menyatakan bahwa Journalism isn’t dead, it’s being reborn. Artinya, jurnalisme tidak mati tetapi sedang dilahirkan Kembali.
Diakui atau tidak maraknya teknologi komunikasi ditambah serbuan media sosial membuat banyak perubahan termasuk di media cetak terutama koran atau surat kabar menjadi kelabakan. Malah ada yang menyebut senja kala media cetak!
Buktinya sudah hampir tidak dilihat lagi di ruang publik orang yang membaca koran. Sebut saja penumpang KRL Commuter Line yang membaca koran di kereta pun tiba-tiba raib entah ke mana. Dulu masih ada Koran Tempo yang simple untuk menemani perjalanan. Tetapi kini boro-boro!
Semua informasi kini sudah berada di smartphone. Mau cari berita apa; sudah tersedia di tangan. Asal paket internet cukup, pembaca sudah bisa selancar ke mana-mana. Luar biasa! Teknologi komunikasi telah mengubah keadaan.
Di tengah menguatnya budaya siber (cyberculture) di mana orang tidak lagi tergantung kepada media cetak seperti koran misalnya; orang mulai terbiasa bangun tidur lalu mencari telepon genggam atau gadget untuk mengabari dirinya melalui mengetik status atau kerajingan melihat status teman-temannya maka tiada pilihan lain bagi media cetak untuk mau tidak mau mengikuti perubahan karakter pembaca tersebut.
Shawn Wilbur (1997) menjelaskan bahwa melalui fasilitas web memungkinkan adanya kontak yang halus (ethereal contact) bahwa seseorang akan menemukan efek dalam kehidupan mereka ketika berhubungan dengan cyberspace. Sebab, karakteristik dunia virtuall bisa menghasilkan efek dan di sisi lain ia juga menjadikan dirinya sebagai sebuah efek.
Hubungan antarindividu di dunia virtual bukanlah sekadar hubungan yang dikatakan sebagai “substanceless hallucination” semata; pada dasarnya hubungan tersebut ternyata secara nyata, memiliki arti dan juga bisa berdampak atau berlanjut pada kehidupan yang sesungguhnya.
Dalam konteks ini maka cyberspace merupakan ruang konseptual di mana semua kata, hubungan manusia, data, kesejahteraan dan juga kekuatan dimanifestasikan oleh setiap orang melalui teknologi CMC atau Computer Mediated Communication.
Teman-teman saya di media cetak pasti mereka sadar akan hal tersebut di tengah-tengah banyak media cetak (terutama koran atau suratkabar) berhenti terbit, menyusutkan frekuensi terbit atau bertahan namun terus berkurang pendapatanya bahkan merugi.
Ada koran yang terpaksa terbit hanya untuk memelihara hubungan dengan relasi atau sentimen koran: rugi rasanya jika tidak membaca koran ini, misalnya.
Jika ada ramalan bahwa media cetak akan punah, mungkin saja itu anggapan yang terlalu prematur. Karena media siber atau online yang mendewakan kecepatan informasi terkadang terjebak kepada kurang mendalam informasi yang disajikan. Bahkan, dalam beberapa kasus media online “keliru” dalam menyajikan berita yang kemudian diubah dalam berita lanjutannya.
Dari sisi jurnalistik, kehadiran media online telah memunculkan trend berita pendek, cepat namun kehilangan kedalaman dan konteks.
Di tengah rimba berita dan informasi yang membuat orang mudah tersesat maka peran jurnalistik sebagai gatekeeper yang secara tradisional melekat dalam media cetak tetap dibutuhkan pembaca: memilih isu yang penting dan bermanfaat namun sekaligus menarik dan menghibur.
Di tengah kondisi itu ternyata hasil survei Litbang Kompas menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap media arus utama masih tinggi.
Ini menjadi modal bagi media arus utama untuk terus berubah lebih inovatif agar survive. Beberapa studi kasus di Amerika Serikat, koran bisa bertahan dan bahkan berkembang di tengah era digital.
Ada beberapa hal yang patut dicermati pengelola media arus utama dalam konteks di atas.
Pertama, tiada pilihan lain bagi media arus utama untuk memperkuat kualitas jurnalistik.
Ambil contoh media cetak yang bisa bertahan dengan memperkuat mutu jurnalistik bahkan menemukan diri lebih menonjol ketika banyak pesaing tumbang secara bisnis terengah-engah atau mengabaikan kualitas jurnalistik demi mengerahkan sebagian besar resources ke digital. Memanfaatkan kelemahan media online menjadi salah satu untuk mengubah diri.
Kedua, sudah saatnya media arus utama membuat sinergi optimal dengan media online. Artinya, media massa tidak saja mengandalkan media cetak tetapi ikut juga membangun media online. Artinya, kehadiran secara online dapat memperkuat brand edisi cetak sekaligus meningkarkan value iklannya.
Potensial menangguk pendapatan dari cetak maupun online sekaligus. Sejumlah media cetak sudah menerapkan konsep ini. Pemasang iklan dapat memasang iklan secara bersamaan di media cetak dan online. Sebuah sinergi positif yang dapat dilakukan agaknya.
Ketiga, media arus utama juga harus mengintensifkan engagement dengan pembaca. Ini dapat diartikan membangun komunitas. Dalam beberapa hal itu berarti melayani minat/orientasi yang spesifik, lokal dan segmented.
Misalnya saja koran umum yang sifatnya nasional akan overstretched dan kesulitan membangun keterikatan dengan pembaca yang makin terfragmentasi.
Di Amerika Serikat, ketika banyak koran nasional dan negara bagian kolaps ternyata media cetak lokal justru meningkat pendapatannya dan menguntungkan. Inilah yang kemudian melahirkan Radar ala Jawa Pos atau Tribun ala Kompas.
Akhirnya hasil survei Litbang Kompas itu harus menjadi pemacu bagi media arus utama untuk terus berbenah diri. Jangan langsung mati suri karena situasi membabi-buta perguncingan di media sosial termasuk dengan influencers. Belum lagi buzzer yang tiada henti menyesaki ruang publik dengan konten yang berisi kebisingan semata. Bahkan berusaha mengaburkan fakta yang sesungguhnya terjadi.
Dan jangan lupa pengelola media arus utama juga harus meningkatkan jurnalisme berkualitas yang berpijak dari fakta demi fakta yang tentunya telah terverikasi.
Karena jantung atau esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Hal ini berbeda dengan perkembangan pesat media siber yang lebih mengutamakan “hit and run”. Yang lebih mengedepankan kecepatan pemberitaan dan cenderung menghakimi serta mengabaikan disiplin verifikasi.
Media arus utama tetap berdiri tegak dengan apa yang dinamakan independen. Artinya, media jangan menjadi alat politik atau corong pihak-pihak yang ingin mendominasi ruang publik dengan konten sesuai dengan motif komunikasi tertentu.
Terakhir dan tetap harus dipegang erat-erat yakni loyalitas pertama media arus utama adalah kepada publik. Jangan malah menghamba kepada kepentingan pemilik media atau yang lebih parah lagi kepada mereka yang tengah berkuasa.
Karena itu tetap konsisten menjaga dan merawat kepercayaan publik dengan tetap sebagai pemegang fungsi kontrol sosial dan transmisi pengetahuan serta menjadi lilin kecil yang menabur harapan di tengah himpitan ekonomi seperti sekarang ini. Semoga!
Oleh: Jurnalis Senior Norman Meoko













Komentar