Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud (tengah), Presiden Türki Recep Tayyip Erdoğan (kiri), serta Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif berfoto bersama usai penandatangan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah di Istana Al-Safa, Makkah, Arab Saudi, Jumat (7/8/2026).
Oleh: Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Dr Darmansjah Djumala
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala menilai Pakta Pertahanan Makkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menjadi salah satu bentuk kesadaran baru terhadap keamanan di kawasan.
“Pakta Makkah tidak harus dibaca sebagai deklarasi perang terhadap Iran, dan juga bukan terbentuknya aliansi militer yang solid, melainkan munculnya kesadaran baru bahwa keamanan kawasan pada akhirnya harus semakin banyak ditentukan oleh negara-negara kawasan sendiri,” kata Darmansjah di Jakarta, Minggu.
Selain itu, dia menilai perjanjian pertahanan bersama tersebut mengindikasikan menurunnya tingkat ketergantungan ketiga negara terhadap payung keamanan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Hal itu menunjukkan mulai bergesernya arsitektur keamanan Timur Tengah dari ketergantungan pada AS menuju upaya membangun kapasitas pertahanan regional sendiri” katanya.
Sementara itu, dia memandang Arab Saudi memutuskan meneken perjanjian tersebut karena berkaca pada pengalaman beberapa tahun terakhir, seperti konflik AS dengan Iran.
Sementara Turki, kata dia, memutuskan meneken perjanjian dalam rangka meningkatkan pengaruh regional, akses terhadap pasar pertahanan, dan kemampuan memainkan peran lebih besar dalam menentukan tatanan keamanan Timur Tengah.
Adapun untuk Pakistan, dia menilai negara tersebut meneken perjanjian karena memiliki hubungan strategis dengan Arab Saudi.
Terakhir, lanjut dia, kerja sama antara tiga negara dinilai dapat terwujud karena konflik AS dengan Iran yang masih berlangsung sampai saat ini memberikan pelajaran bahwa superioritas militer AS tidak otomatis menghilangkan kerentanan ketiga negara terhadap ancaman.
Kemudian, serangan Iran akhir-akhir ini yang dinilai menguras persediaan sistem pertahanan udara negara-negara Teluk memperlihatkan adanya kesenjangan kemampuan yang perlu segera diatasi.
Sebelumnya, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada 7 Agustus 2026.
Pakta Pertahanan Makkah tersebut ditandatangani oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam pertemuan puncak yang berlangsung di Istana Al-Safa, Arab Saudi.













Komentar