JAKARTA(B-ONEINDONESIA.COM) – Suasana kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, mendadak tegang dan penuh keamanan pada Sabtu (9/5/2026). Sejumlah personel Brimob Polda Metro Jaya lengkap dengan persenjataan lengkap dikerahkan dan mengamankan akses masuk ke salah satu gedung perkantoran di kawasan tersebut. Kehadiran pasukan elit ini dilakukan guna mengawal jalannya penggerebekan besar-besaran yang digelar kepolisian.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, gedung yang disasar itu diduga kuat menjadi pusat operasional jaringan perjudian daring berskala internasional. Tim penyidik segera masuk dan melakukan penggeledahan menyeluruh ke setiap ruangan. Dari pemeriksaan di lokasi, petugas berhasil mengamankan sejumlah perangkat elektronik seperti komputer, laptop, ponsel, hingga perangkat pendukung lain yang diduga menjadi barang bukti utama aktivitas kejahatan tersebut.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, membenarkan adanya operasi besar ini. Ia menjelaskan bahwa keberadaan pasukan Brimob bertugas khusus menjaga keamanan para penyidik agar proses pengusutan berjalan aman dan lancar tanpa gangguan apa pun.
Dalam operasi tersebut, sejumlah orang yang berada di dalam gedung langsung diamankan dan kini menjalani pemeriksaan mendalam di lokasi guna diketahui keterlibatannya. Hingga saat ini, polisi masih terus mendalami struktur jaringan, asal-usul, serta seberapa luas jangkauan operasi sindikat tersebut. Pihak kepolisian berjanji akan segera merilis hasil lengkap pengungkapan kasus ini kepada publik dalam waktu dekat.
Bareskrim Polri menggerebek aktivitas pengelolaan judi online (judol) yang beroperasi di sebuah kantor di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.
Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri membongkar praktik aktivitas pengelolaan judi online (judol) yang beroperasi di sebuah kantor di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Sabtu (9/5/2026). Total 321 orang yang merupakan warga negara asing (WNA) ditangkap dalam pengungkapan kasus ini.
Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri, Brigjen Wira Satya Triputra mengatakan, aktivitas judi online ini merupakan jaringan internasional yang dilakukan secara terorganisir.
“Dari para pelaku yang berhasil kita amankan jumlahnya mencapai 321 orang,” ujar Brigjen Wira Satya Triputra, di Hayam Wuruk Tower Plaza, Sabtu (9/5/2026).
Wira menambahkan pelaku terbanyak berasal dari negara Vietnam dengan total sebanyak 228 orang. Kemudian negara China 57 orang, Myanmar 13 orang, Laos 11 orang, Thailand 5 orang, Kamboja 3 orang dan Malaysia 3 orang.
Menurut Wira, penggerebekan ini bermula dari adanya laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas warga negara asing di gedung tersebut. Saat penggerebekan pelaku tertangkap tangan sedang mengoperasikan judi online.
“Kami tangkap dalam keadaan tertangkap tangan, dalam arti para pelaku sedang melakukan operasional ataupun kegiatan daripada judi online,” kata dia.
Dari hasil pemeriksaan sementara, para pelaku menjalankan atau mengoperasionalkan setidaknya 75 situs judi daring. Polisi masih mendalami lebih lanjut terkait hal ini.
“Dari hasil pemeriksaan penyidik menemukan 75 domain dan website yang diduga digunakan sebagai sarana perjudian online,” ujarnya.
Polisi saat ini sudah mengamankan 321 orang warga negara asing (WNA) dari gedung perkantoran di Hayam Wuruk. Dari 321 orang itu, sebanyak 275 telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Untuk sementara kami sudah menetapkan (tersangka) 275 orang,” jelas Wira.
Bareskrim Polri: Sindikat Judi Online di Hayam Wuruk Baru Beroperasi 2 Bulan Sebelum Digerebek
Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri mengungkap jaringan judi online atau judol yang melibatkan ratusan warga negara asing (WNA) di kawasan perkantoran Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat baru beroperasi sekitar dua bulan.
Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Pol Wira Satya Triputra mengatakan, informasi tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan sementara terhadap para pelaku yang diamankan dalam penggerebekan markas judi online tersebut.
“Dari hasil pemeriksaan, kurang lebih selama 2 bulan. Dua bulan, baru dua bulan,” kata Wira di lokasi, Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan para operator judol tinggal di wilayah sekitar area perkantoran. Menurut Wira, lokasi di dalam gedung hanya digunakan khusus untuk menjalankan aktivitas perjudian daring.
“Mereka rata-rata tinggal di daerah seputaran tower ini. Jadi di atas itu pure hanya digunakan untuk operasional daripada kegiatan perjudian online,” ucapanya.
Ada pun dalam pengungkapan kasus jaringan judol internasional ini, polisi mengamankan total 321 orang. Sebagian besar di antaranya merupakan WNA yang diduga terlibat dalam operasional jaringan judi online internasional tersebut.
Berdasarkan hasil pendalaman sementara, Wira menyatakan mayoritas pelaku memang telah mengetahui tujuan kedatangannya ke Indonesia untuk bekerja di industri judi online. Meski begitu, polisi masih mendalami kemungkinan adanya korban penipuan dalam perekrutan tersebut.
“Kemudian terkait kedatangan mereka ke Indonesia, apakah dengan terpaksa ataupun dengan kesadaran sendiri, dari hasil pemeriksaan ini variatif. Namun sebagian besar mereka memang sudah tahu kalau ke sini tujuannya untuk bekerja di judi online,” kata Wira.
Dia menegaskan, aktivitas yang dijalankan kelompok tersebut merupakan praktik perjudian online murni, bukan penipuan daring atau scam.
“Kami ulangi bahwa ini bukan scam ya. Ini adalah pure perjudian,” terang Wira.
Dari hasil penyelidikan sementara, lanjut dia, korban dari aktivitas judi online tersebut mayoritas berasal dari luar negeri.
“Untuk korban sementara dari hasil penelusuran kami berdasarkan analisa, bahwa yang menjadi korban ini rata-rata adalah warga negara luar,” tegas Wira. (JFS)







Komentar