Menteri Selama 2 Dekade, Prof Emil Salim Datangi Kementerian Lingkungan Hidup

Jakarta (B-Oneindoneaia.com) – Di usianya yang sudah 94 tahun, Prof. Emil Salim masih bergerak. Kamis, 7 Mei 2026, ekonom senior sekaligus tokoh lingkungan hidup paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia itu menyambangi Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) yang baru, Mohammad Jumhur Hidayat, di Kantor KLH/BPLH, Jakarta.

Bukan kunjungan basa-basi. Emil datang membawa pesan.

Menurut Jumhur, ada satu pesan dari Emil yang paling membekas. Bahwa dalam membangun lingkungan hidup di Indonesia, harus selalu ada sentuhan kemanusiaan (human touch). Lingkungan bukan sekadar soal data dan regulasi, melainkan soal manusia yang hidup di dalamnya, bergantung padanya, dan berhak atas kelestariannya.

Emil juga meminta Jumhur untuk menghormati dan menggandeng kelompok masyarakat sipil serta para pegiat lingkungan yang selama ini bekerja secara sukarela menjaga bumi. Gerakan lingkungan, tegasnya, tidak boleh menjadi milik satu kelompok atau satu kementerian. Ia harus menjadi gerakan bersama yang hidup di seluruh lapisan masyarakat.

Pesan dari seorang Emil Salim tentu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Ia adalah menteri Indonesia yang paling lama menjabat berturut-turut merentang lebih dari dua dekade di era Orde Baru. Jabatan-jabatannya mencakup Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971-1973), Menteri Perhubungan (1973-1978), Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1978-1983), hingga Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup selama dua periode penuh (1983-1993).

Sepanjang kariernya, Emil menerima penghargaan The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF) serta Blue Planet Prize dari The Asahi Glass Foundation pada tahun 2006.

Sementara itu, Mohammad Jumhur Hidayat sendiri adalah wajah baru di kursi menteri lingkungan. Ia resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada 27 April 2026.

Latar belakangnya jauh dari jalur konvensional, ia dikenal sebagai aktivis pergerakan buruh yang memulai aktivitasnya sejak menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung.

Pertemuan dua tokoh dengan latar belakang yang sangat berbeda ini satunya seorang ekonom dan teknokrat senior Orde Baru, serta seorang aktivis yang pernah merasakan penjara demi keyakinannya, ini menjadi momen yang menarik untuk diperhatikan.

Di balik perbedaan generasi dan perjalanan hidup mereka, ada satu hal yang tampaknya sama: keduanya percaya bahwa lingkungan hidup adalah urusan semua orang, bukan hanya urusan negara.

Komentar