Ketua Umum PBNU 2026–203: KH Abdul Hakim Mahfudz

Ketua Umum PBNU terpilih hasil Muktamar ke 35 Nahdlatul Ulama, KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin saat membacakan kontrak jamiyyah pada hari Senin, 31 Agustus 2026.

Jombang (B-Oneindonesia.com) – KH Abdul Hakim Mahfudz/Gus Kikin terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke 35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. “Pagi ini saya telah menandatangani kontrak Jamiyyah,” kata Gus Kikin, Senin (31/8/2026).

Dalam kontrak Jamiyyah tersebut, ia menyampaikan bahwa pria kelahiran Jombang, 17 Agustus 1958 tersebut menyatakan kesiapannya menjadi pimpinan baru PBNU menggantikan Kiai Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Kemudian, ia juga menyampaikan risalah tentang dirinya soal keabsahan sebagai kader dan tokoh NU, serta kesesuaian syarat sebagai Ketua Umum periode 2026 – 2031. Di antaranya adalah tidak sedang mengemban jabatan politik, maupun sedang menjabat sebagai pengurus partai politik maupun organisasi yang berafiliasi dengan parpol dalam kurun waktu 1 tahun terakhir.

“Tidak sedang menduduki jabatan politik sebagaimana diatur dalam anggaran rumah tanggal Nahdlatul Ulama Pasal 52 ayat 5,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur tersebut menegaskan siap menjadi pemersatu, serta menjalankan amanat barunya itu sesuai dengan regulasi yang diatur dalam organisasi.

“Bersedia dan akan menjalankan tugas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab sebagaimana diatur dalam anggaran rumah tangga Nahdlatul Ulama pasal 65 ayat 2 dan Pasal 72,” tegas Gus Kikin.

Tugas dan tanggung jawab sesuai aturan AD/ART tersebut antara lain ; menjaga dan menjalankan amanat dan ketentuan-ketentuan Jamiyyah. Kemudian menjaga keutuhan Jamiyah ke dalam maupun ke luar, serta melaporkan laporan pertanggungjawaban secara tertulis dalam permusyawaratan sesuai dengan tingkat kepengurusannya.

Dan yang terakhir adalah siap menjalankan seluruh hasil keputusan Muktamar ke 35 NU, baik kebijakan dan keputusan organisasi dengan sungguh-sungguhnya serta penuh tanggung jawab. Begitu juga taat kepada Rais Aam PBNU.

“Apabila saya melanggar hal-hal yang saya nyatakan dalam kontrak Jamiyah ini, saya bersedia dikenakan sanksi sesuai anggaran rumah tangga Nahdlatul Ulama, peraturan perkumpulan Nahdlatul Ulama, dan peraturan pengurus besar Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

MENGENAL GUS KIKIN, NAKHODA BARU PBNU: DARI GELADAK KAPAL KE KEMUDI NU

Klimaks Muktamar ke-35 NU akhirnya tercapai. Seperti banyak diprediksi nahdliyin, KH Abdul Hakim Mahfudz/Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026–2031 dengan 472 suara.

Sembilan kiai sepuh AHWA sepakat memilih cicit KH Hasyim Asy’ari ini untuk memegang kemudi kapal raksasa bernama Nahdlatul Ulama.

Dari Laut ke Pesantren
Perjalanan Gus Kikin bukan cerita orang yang dari kecil bercita-cita jadi penguasa organisasi. Ia justru pernah benar-benar hidup di atas kapal.

Lahir di Jombang, 17 Agustus 1958, Gus Kikin putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.  Jalur ibunya mengalir darah keluarga pendiri NU.

Tapi silsilah itu tidak membuatnya duduk manis. Ia memilih berlayar. Berbulan-bulan di tengah samudra, membelah ombak, mencium asin laut. Ia pernah dipercaya jadi Kepala Cabang Cilegon dan Pimpinan Harian Cabang Medan PT Djakarta Lloyd.

Dari geladak kapal, ia lalu terjun ke dunia bisnis. Gus Kikin jadi pengusaha migas lewat PT Energi Mineral Langgeng yang mengelola South East Madura Block.

Santri iya. Pelaut iya. Pengusaha iya. Cicit muassis NU iya. Kalau dibuat kartu nama mungkin perlu ukuran kalender. Ia juga alumni Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka.

14 Tahun Bekerja Senyap
Di NU, Gus Kikin justru dikenal tidak berisik. Ia pernah jadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur selama 14 tahun, lalu Penjabat Ketua PWNU Jatim, dan terpilih definitif di Konferwil XVIII.

“Dalam politik nasional, 14 tahun cukup untuk mendirikan partai, pindah partai, mendirikan partai baru, lalu kembali ke partai pertama. Gus Kikin? Tetap bekerja,”

Kemenangan 472 suara jadi faktor utama AHWA menjatuhkan pilihan.

Visi: Kembali ke Akar & Kuatkan Ekonomi

Visi Gus Kikin banyak bicara soal kembali ke Qanun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari sebagai pedoman penting.

Pesannya sederhana: NU jangan sampai lupa rumahnya sendiri hanya karena terlalu sibuk bertamu ke rumah kekuasaan.

Ia juga membawa agenda ekonomi dan kewirausahaan. Warga NU tidak cukup pintar mengaji, tapi juga harus mampu membangun usaha. UMKM harus bergerak. Santri harus menciptakan lapangan kerja.

Nahkodanya Sudah Jelas
Fakta integritas yang ditandatangani di hadapan muktamirin menjadi garis start baru.

Dari laut ia belajar menghadapi badai. Dari pesantren ia belajar kesabaran. Dari bisnis ia belajar menghitung. Dan dari NU ia akan belajar bahwa mengemudikan kapal raksasa jauh lebih sulit dari sekadar memenangkan perlombaan.

Selamat, Gus Kikin. Selamat menahkodai NU. Semoga kapal besar ini berlayar tenang, bukan mabuk laut karena ombak politik.

Komentar