Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Perbedaan pandangan soal arah kebijakan moneter antara pemerintah dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo diduga menjadi salah satu pemicu pergantian pucuk pimpinan bank sentral. Pengamat ekonomi Yanuar Rizky menilai Perry awalnya cukup akomodatif terhadap kepentingan pemerintah.
Menurut Yanuar, BI sempat mengikuti keinginan pemerintah untuk menjaga biaya utang tetap rendah, termasuk dengan menahan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan menyesuaikan kebijakan suku bunga agar selaras dengan kebutuhan fiskal.
Namun belakangan, sikap BI yang mulai menaikkan BI Rate dianggap berseberangan dengan agenda pemerintah. Langkah pengetatan moneter tersebut dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya menjaga likuiditas dan pertumbuhan ekonomi.
Dugaan perbedaan arah kebijakan inilah yang kemudian memunculkan spekulasi bahwa kenaikan BI Rate menjadi alasan di balik mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI.







Komentar