Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Di bawah langit senja ibu kota, seorang kesatria menaiki singgasana bersepuh emas. Di tangannya tergenggam pedang komando, di kepalanya bertahta mahkota berkilau. Ia merasa telah mencapai puncak gunung tertinggi setelah sekian musim pendakian yang melelahkan.
Datanglah seorang musafir tua berbusana sederhana, langkahnya tenang, membawa lentera kecil berisi tetesan makna. Namanya dihafal angin sebagai Quraish Shihab sang pembawa tafsir. Ia berbisik di telinga sang penguasa di tengah riuh rendah tabuhan genderang istana:
“Wahai Pemimpin, singgasana ini bukan tempat mematut diri. Ia adalah timbangan gaib; semakin tinggi engkau duduk, semakin berat batu ujian yang diletakkan Tuhan di atas pundakmu.”
Sang penguasa mengangguk, atau mungkin hanya menundukkan kepala karena beratnya mahkota. Ia mendengar suara sang musafir mendengung serupa angin lalu, menyangka itu sekadar kidung puji-pujian penyejuk tidur siang. Di matanya, kursi yang ia duduki adalah hasil dari otot yang mengeras dan strategi baja, bukan titipan rapuh yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh Pemilik Semesta.
Maka lentera sang musafir dibiarkan meredup di sudut ruangan. Sang penguasa kembali memegang kemudi, sibuk menghitung jumlah prajurit dan menata benteng agar tak roboh digoyang badai, lupa bahwa badai terbesar justru bersemayam di dalam dadanya sendiri: ketika kekuasaan membuatnya tuli pada keadilan dan buta pada keluhan mereka yang tak bernama.
Mengutip filosofi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Quraish memberikan “resep” kepemimpinan yang beradab. Ia menegaskan bahwa marwah seorang pemimpin dipertaruhkan pada keberpihakannya kepada kaum yang haknya terampas oleh mereka yang merasa kuat.
“Niat Bapak untuk memberantas korupsi dapat dilakukan dengan adil. Yang lemah akan menjadi kuat di sisi pemimpin sampai haknya dikembalikan,” tuturnya, seolah memberikan pagar moral bagi visi pemberantasan korupsi yang tengah digalakkan pemerintah.
Kekuasaan adalah jubah yang ditenun dari benang ujian berat. Ketika Quraish Shihab membisikkan petuah itu, beliau sedang mengulurkan sebuah kompas spiritual, bukan sekadar basa-basi seremonial. Namun, jalannya roda istana sering kali membuat deru mesin kekuasaan menenggelamkan suara-suara jernih dari pinggiran.
Menghirup Wangi Singgasana, Melupakan Bisikan dari Abi Shihab
Di sebuah ruang penuh jabat tangan, seorang ulama tua yang teduh menyerahkan sebuah bingkisan tak terlihat kepada sang jenderal yang baru saja turun dari kuda perangnya. “Kekuasaan itu ujian,” bisik sang tetua, mirip seorang kapten tua yang memperingatkan pelaut tentang badai yang bersembunyi di balik tenangnya air samudera.
Namun, ketika mahkota emas mulai dipasangkan dan karpet merah digelar sepanjang koridor istana, musik tiup korps musik kepresidenan tampaknya terlalu nyaring. Bunyi trompet dan tepuk tangan para pemandu sorak di sekeliling takhta berhasil mengubah peringatan suci itu menjadi sekadar latar belakang suara (backsound) yang estetis di media sosial.
Mahkota yang Berubah Menjadi Topeng
Kekuasaan bukanlah hadiah akhir dari sebuah perlombaan panjang, melainkan cangkir ujian yang diletakkan Tuhan di atas meja kerja seorang presiden. Sayangnya, para pembisik istana bertugas menuangkan madu sanjungan ke dalamnya setiap pagi, membuat sang pemimpin lupa bahwa di dasar cangkir itu ada tanggung jawab yang pekat dan pahit.
Ketika seseorang mulai duduk di kursi tertinggi, para menteri dan sekutu sibuk memasangkan kacamata kuda yang mewah. Kacamata itu hanya mengizinkan mata melihat ke depan, ke arah proyek-proyek megah dan angka-angka pertumbuhan di atas kertas. Suara rakyat yang merintih di bawah kaki-kaki meja kekuasaan dianggap sebagai gangguan teknis belaka.
Peringatan dari Quraish Shihab adalah pengingat bahwa jubah kekuasaan itu sangat panjang. Jika seorang pemimpin terlalu asyik mengagumi keindahan kainnya, ia akan tersandung oleh kainnya sendiri saat mencoba melangkah menuju keadilan.
Panggung Sandiwara Para Pemuja
Di bawah lampu sorot istana, ujian Tuhan sering kali disalahartikan sebagai “restu mutlak.” Ketika kebijakan mulai menjauh dari kemaslahatan publik, para dayang-dayang politik justru sibuk mengangguk, menciptakan gema palsu bahwa semua keputusan presiden adalah titah langit yang suci.
Mereka lupa bahwa Tuhan tidak sedang menguji seberapa kuat sang presiden mencengkeram tongkat komando. Tuhan sedang menguji seberapa berani ia melepaskan ego kelompoknya demi mengusap air mata rakyatnya. Jika telinga istana hanya dipenuhi oleh paduan suara pemuja, maka lambaian tangan dari jendela mobil mewah bukan lagi simbol kedekatan, melainkan batas tebal yang memisahkan realitas dan fantasi kekuasaan.










Komentar