Jembatan di Dunia yang Retak: “Sebuah Refleksi dari Forum The Yudhoyono Institute”

Oleh Yoyo Budianto

Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Pagi itu, udara di Ballroom Hotel Sahid Jakarta, terasa berbeda. Bukan karena AC yang dingin atau karpet yang mewah, tapi karena suasana. Di satu ruangan, duduk berdampingan para pemikir lintas generasi, ekonom, diplomat, akademisi, politisi, pejabat, mahasiswa, dan duta besar dari berbagai negara.

Tidak ada iringan musik. Tidak ada panggung berlebihan. Tapi ada satu hal yang terasa kuat, kesungguhan. Hadirin datang bukan sekadar untuk hadir, melainkan untuk mendengar, merenung, bertanya dan menyumbang gagasan.

Saya termasuk yang beruntung bisa hadir langsung dalam forum ini. Diundang sebagai peserta, saya menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana gagasan-gagasan besar dibicarakan dengan penuh kejernihan, bukan kepentingan. Forum ini memberi ruang untuk belajar, merenung, dan membayangkan ulang peran Indonesia dalam dunia yang berubah cepat.

Selama hampir enam jam penuh, tak satupun kursi kosong. Forum yang digelar oleh The Yudhoyono Institute ini bertajuk: “Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan, dan Ekonomi Global.”

Ini bukan seminar biasa. Ini adalah forum strategis yang lahir dari semangat TYI, lembaga yang berdiri di atas tiga fondasi utama: Liberty, Prosperity, dan Security. Di tengah dunia yang makin retak, oleh perang dagang, krisis iklim, disrupsi teknologi, dan persaingan kekuatan besar. TYI menggelar forum ini bukan demi publisitas, melainkan untuk menghadirkan kejernihan pemikiran.

AHY: Dunia terbelah, Indonesia tak boleh terlambat

Forum ini dibuka secara resmi oleh Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono  Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia.

Dalam pidatonya yang reflektif namun lugas, Bapak AHY tidak menawarkan ketakutan, tetapi pemahaman. Tidak menakut-nakuti, tetapi membangkitkan kesadaran.

Beliau menjelaskan bahwa kebijakan tarif impor 32% dari Presiden Trump terhadap Indonesia bukan semata langkah ekonomi, tetapi bagian dari kembalinya politik realisme dalam wajah yang lebih ofensif.

“Dunia tidak lagi dibagi antara yang kuat dan lemah, tapi antara yang cepat dan yang tertinggal.”

Bapak AHY menekankan bahwa Indonesia harus hadir sebagai bangsa yang tidak hanya bereaksi, tetapi juga mengarahkan.Ia mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto yang menjalankan dual-track diplomacy: negosiasi langsung dengan Washington dan membangun solidaritas dengan ASEAN serta mitra strategis global lainnya.

Empat langkah strategis yang beliau sampaikan:

1. Memperkuat daya tahan ekonomi domestik, menjaga daya beli rakyat dan menarik investasi.
2. Mengubah krisis menjadi peluang, melalui hilirisasi industri dan transisi ke ekonomi hijau.
3. Diversifikasi mitra dan pasar, agar tidak tergantung pada poros kekuatan tertentu.
4. Memperkuat solidaritas ASEAN sebagai kawasan yang bersatu dalam tantangan global.

“Ketika dunia makin terfragmentasi, mari kita jadi jembatan. Solidaritas adalah kekuatan kita. Kolaborasi adalah harapan kita.”

Diskusi hangat, tanya jawab tajam, dan energi yang tak padam

Forum ini terbagi ke dalam dua sesi utama.

Sesi pertama

Dipandu oleh Raden Pardede, Ph.D., membahas ketahanan ekonomi dan masa depan pembangunan nasional bersama tokoh-tokoh strategis:

* Prof. Dr. Chairul Tanjung
* Prof. Dr. Mari Elka Pangestu
* Muhammad Chatib Basri, Ph.D.
* Prof. Dr. Hermanto Siregar
Sesi ini membedah dampak langsung kebijakan global terhadap fiskal, perdagangan, dan stabilitas pangan nasional.

Sesi kedua:

Dipandu oleh Ahmad Khoirul Umam, Ph.D., menyentuh dimensi yang lebih tajam: politik luar negeri, diplomasi pertahanan, dan arsitektur geopolitik baru. Panelisnya:

* Arrmanatha Nasir
* Dr. Dino Patti Djalal
* Dr. Rizal Sukma
* Ossy Dermawan, M.Sc.

Pertanyaan dari peserta, baik dari kalangan kampus, kedutaan, maupun pejabat, membuat diskusi tak pernah dingin. Semua berpikir keras, tapi tetap dalam semangat kolaboratif. Inilah ruang pertemuan yang langka: Tidak hanya bernas, tapi juga bernapas, menghidupkan kembali semangat berpikir bersama, bukan saling mengalahkan..

SBY: Menjaga kejernihan dalam dunia yang penuh gejolak

Penutupan forum diberikan langsung oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono yang juga menjabat sebagai Chairman The Yudhoyono Institute.

Beliau selama ini dikenal luas sebagai negarawan, pemikir yang tajam, sekaligus pribadi yang kaya akan perenungan. Dalam kesehariannya, beliau juga menuangkan refleksi itu melalui hobi melukis, sebuah ekspresi kontemplatif yang memperkaya sudut pandangnya terhadap dunia. Yang beliau sampaikan dalam forum ini bukan sekadar pidato, melainkan refleksi mendalam, dihadirkan dengan ketulusan, pengalaman panjang, dan kejernihan yang menyejukkan.

Bapak SBY menceritakan bahwa usai Hari Raya Idul Fitri, beliau sempat melukis di Damar Langit, Cisarua. Namun di tengah ketenangan, pikirannya terusik oleh kabar perang tarif yang dikenakan Amerika Serikat terhadap Indonesia. Malam itu juga, beliau menulis tujuh butir pemikiran sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang negarawan.

“Kita harus tahu siapa kita. Tahu kekuatan dan batas kita. Tapi itu bukan alasan untuk pasif. Say something. Do something. Be part of the solution.” ujarnya.

Bapak SBY menegaskan bahwa Indonesia adalah middle power yang dapat memainkan peran konstruktif, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Namun peran ini hanya mungkin bila kita bersiap, waspada, dan tidak terlena.

Lima tantangan besar dunia yang beliau angkat:

1. Geopolitik yang memanas dan ancaman konflik terbuka.
2. Guncangan ekonomi global, dari inflasi hingga ledakan pengangguran.
3. Krisis iklim yang semakin nyata dan mendesak.
4. Ketimpangan global dan krisis utang negara-negara miskin.
5. Disrupsi teknologi, terutama potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan.

Beliau mengingatkan, ketika negara-negara besar sibuk bersaing, isu-isu kemanusiaan seperti iklim, kemiskinan, dan keadilan sosial justru tak boleh diabaikan.

“Selalu ada cara. Selalu ada jalan. Dunia ini belum selesai. Tapi kita tidak boleh lelah berpikir.” jelasnya.

TYI dan Suara Indonesia yang Jernih

Forum ini membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam panggung geopolitik dunia. Kita adalah pemain, selama kita berani berpikir, bersuara, dan bertindak.

The Yudhoyono Institute (TYI) tidak sedang bicara tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang ke mana arah bangsa ini melangkah. Didirikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dan dipimpin oleh Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, TYI tampil sebagai lembaga pemikir strategis kelas dunia, independen, non-partisan, dan disegani di tingkat global.

Dari Berlin hingga Tokyo, dari Universitas Kebangsaan Malaysia hingga Stanford University, TYI bukan hanya hadir, tapi terlibat dalam percakapan penting tentang masa depan kawasan dan dunia.
Dengan berpijak pada Liberty, Prosperity, dan Security, TYI terus menjadi ruang strategis yang menyuarakan kejernihan.

Karena dalam dunia yang semakin gaduh, suara yang jernih adalah harapan terakhir kita.
Dan hari itu, di Hotel Sahid, Jakarta, Indonesia tidak hanya menyimak dunia. Indonesia berbicara. Dengan tenang. Dengan jernih. Dan dengan niat yang baik.

Komentar