Prabowo Dapat Kartu NU, Publik Teringat Erick Thohir yang Jadi “Muallaf NU”

Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Baru saja Presiden Prabowo Subianto mendapatkan Kartunu alias Kartu NU. Warga nahdliyin tentu senang. Presiden wong NU, cak!

Tetapi jangan buru-buru buka pintu tafsir. Di negeri ini, satu kartu bisa melahirkan seribu tafsir, dua ribu spekulasi. “Tandanya 2029 semakin dekat tu.” Ups.

Kartunu itu kartu anggota. Tetapi di dunia politik, kartu kadang punya ilmu tambahan. Bisa dibaca sebagai identitas, kedekatan, sinyal, bahkan oleh sebagian orang dianggap semacam tiket masuk ruang VIP politik.

Nah, di tengah gegap-gempita Prabowo masuk NU, tiba-tiba publik teringat Erick Thohir.

Ke mana si Erick?

Saat pembukaan dan penutupan acara besar NU, batang hidung Menteri Pemuda dan Olahraga itu tidak kelihatan. Apakah sibuk? Sakit? Ada rapat? Atau sedang mengambil cuti dari NU? Atau, merajuk. Jangan-jangan kapok jadi nahdliyin? Ups

Padahal dulu Erick ini luar biasa. Saat menjadi Menteri BUMN era Jokowi, ia mendekat ke NU bukan seperti tamu kondangan yang datang, salaman, makan nasi liwet, lalu pulang membawa besek.

Ia ikut kaderisasi Banser. Pernah menjadi Ketua Lakpesdam NU. Bahkan dipercaya menjadi Ketua Panitia Satu Abad NU.

Istilahnya, ini bukan lagi “kenalan dengan NU”. Ini sudah seperti calon menantu. Datang ke rumah, kenalan dengan keluarga besar, ikut kerja bakti, bahkan sudah tahu letak dapur.

Publik kemudian mengaitkannya dengan ambisi politik. Nama Erick sempat masuk bursa calon wakil presiden. Kecurigaan pun bermunculan. Jangan-jangan begitu rajin mendekati NU bukan cuma karena cinta pada jamiyah, tetapi karena sedang mencari kendaraan menuju Istana.

Apalagi saat itu jaringan BUMN di berbagai daerah ramai memasang foto Erick. Kalau dilihat sekilas, rasanya Erick tinggal menunggu tukang cetak undangan. “Mohon doa restu, calon wakil presiden.”

Tapi politik punya plot twist lebih brutal daripada sinetron. Yang jadi cawapres ternyata Gibran. Erick pun gigit jari. Padahal sudah begitu intens jadi muallaf NU.

Sejak itu, hubungan Erick dengan NU tampaknya tidak lagi se-meriah sebelumnya. Pelan-pelan menjauh? Entahlah. Jangan menuduh. Kita hanya sedang bermain teori konspirasi sambil menyeruput kopi.

Di sepak bola pun ceritanya tidak selalu manis. Prestasi Timnas mengalami pasang surut. Jadi lengkap sudah. Kendaraan politik tidak jadi, kendaraan sepak bola pun kadang mogok.

Di sinilah muncul ungkapan khas warga akar rumput, jangan macam mendorong mobil mogok.

Saat mobil mati, semua orang turun.

“Dorong wak!”

“Dorong!”

Keringat bercucuran. Sandal hampir putus. Pinggang encok. Lutut bunyi krek-krek.

Begitu mesin menyala dan mobil melaju, jangan sampai yang mendorong malah ditinggalkan di belakang. NU sering diperlakukan seperti itu.

Jangan ketika butuh suara, doa, massa, jaringan, dan legitimasi, NU dipanggil, “Sampeyan keluarga kami.”

Begitu sudah naik ke mobil kekuasaan, “Maaf, kursi penuh.”

Nahdliyin di belakang cuma melongo sambil berkata, “Lho, kita yang dorong dari tadi, kok malah ditinggal?”

Tentu ini bukan tuduhan kepada siapa pun. Ini cuma alarm moral.

Sebab NU bukan bengkel politik. Bukan pom bensin kekuasaan. Bukan tukang dorong kendaraan para elite.

NU adalah jutaan rakyat biasa yang hidupnya jauh dari baliho, kabinet, dan karpet merah. Kalau mau naik mobil kekuasaan, silakan. Tapi jangan lupa siapa yang ikut mendorong ketika mesinnya belum menyala.

Sebab rakyat punya ingatan. Kalau rakyat sudah berhenti mendorong, mobil secanggih apa pun bisa kembali mogok.

Apalagi kalau bannya empat, tetapi penumpangnya kebanyakan.

Rosadi Jamani

Komentar