Presiden Prabowo Subianto memberikan pengarahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026). Prabowo mengungkap diplomasi di Tokyo yang membuka jalan dimulainya pembangunan Proyek LNG Abadi Blok Masela setelah tertunda selama 28 tahun.
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Presiden Prabowo Subianto mengungkap langkah diplomasi yang ditempuh pemerintah untuk mengakhiri kebuntuan Proyek LNG Abadi Blok Masela yang tertunda selama 28 tahun. Salah satunya dengan menemui langsung pimpinan operator proyek, INPEX Masela Ltd., di Tokyo, Jepang.
Menurut Prabowo, pemerintah meminta kepastian komitmen investasi. Jika proyek tetap tidak dijalankan, pemerintah siap mengalihkan pengembangannya kepada perusahaan lain.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan pengarahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Diplomasi di Tokyo
Prabowo mengatakan proyek strategis tersebut terlalu lama tertunda, padahal Indonesia membutuhkan tambahan pasokan energi dan devisa.
“Sudah 28 tahun mangkrak. Saya berangkat ke Tokyo, saya ketemu pimpinan perusahaan Jepang itu, INPEX ya. Saya sampaikan dengan baik dan sopan,” kata Prabowo.
Ia mengaku meminta kepastian apakah perusahaan masih berminat melanjutkan proyek.
“Saya sampaikan dengan baik dan sopan, Saudara masih berminat ndak? Kalau Saudara tidak berminat, saya akan alokasi, saya akan tunjuk perusahaan lain. Sopan, tapi tegas,” ujarnya.
Prabowo menegaskan penyampaian tersebut bukan ultimatum, melainkan dorongan agar proyek strategis segera direalisasikan.
“Bukan ultimatum itu, himbauan. ‘Benar nih Saudara yang mulia, apakah Jepang masih berminat?’ Masalahnya bangsa Indonesia sangat butuh energi, sangat butuh devisa.” ujar Presiden.
Izin Tak Dimanfaatkan Akan Dicabut
Presiden kemudian meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersikap tegas terhadap pemegang izin yang tidak menjalankan investasinya.
“Menteri ESDM, enam bulan tidak ada kegiatan, cabut. Sekarang kita tidak toleransi. HGU, HGB, SIUP, izin, kita beri dua tahun tidak ada kegiatan, cabut!”
Pernyataan itu menegaskan sikap pemerintah agar izin usaha tidak hanya menjadi aset yang dikuasai tanpa realisasi investasi.
Proyek yang Tertunda Hampir Tiga Dekade
Blok Masela berada di Laut Arafura, sekitar 150 kilometer di selatan Pulau Masela, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Kawasan ini mencakup Lapangan Gas Abadi yang ditemukan pada 2000 dan menjadi salah satu cadangan gas terbesar Indonesia.
Selama lebih dari dua dekade, proyek tersebut tertunda akibat berbagai kajian teknis, perubahan kebijakan, serta tarik ulur skema pengembangan antara pembangunan kilang terapung (Floating Liquefied Natural Gas/FLNG) dan fasilitas LNG di darat (onshore).
Dalam perjalanannya, struktur kepemilikan proyek juga berubah setelah Shell melepas partisipasinya. Kini proyek dipimpin INPEX Masela Ltd. bersama Pertamina dan Petronas.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek akhirnya dilakukan Presiden Prabowo pada Kamis (16/7/2026), menandai dimulainya tahap konstruksi setelah penantian panjang.
Proyek LNG Abadi Blok Masela diperkirakan menelan investasi sekitar US$20,9 miliar atau sekitar Rp300 triliun.
Setelah beroperasi, proyek ini ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, menyalurkan gas untuk kebutuhan domestik, serta menghasilkan sekitar 35.000 barel kondensat per hari.
Pemerintah menargetkan produksi perdana dimulai sekitar 2029–2030.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek tersebut diharapkan meningkatkan penerimaan negara, mendorong hilirisasi gas, memperbesar penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta membuka lapangan kerja dan mempercepat pembangunan infrastruktur di Kepulauan Tanimbar.







Komentar