Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Pernah nggak sih, pegang uang seratus ribu, beneran dalam bentuk fisik kertas merah itu terus pas mau bayar sesuatu, kita mikir dua kali?
“Njir, mahal amat…”
Tapi pas duit yang sama ada di e-wallet atau mobile banking, kita tap-tap-tap aja, kayak nggak ada beban?
Ternyata itu bukan sekadar perasaan. Itu psikologi manusia yang ditelanjangi lewat studi ilmiah.
Riset dari Drazen Prelec dan George Loewenstein (pakar behavioral economics dari MIT dan Carnegie Mellon) membuktikan satu hal:
Orang merasa lebih sakit secara psikologis saat membayar pakai uang tunai, dibanding pakai e-money.
Mereka menyebutnya dengan istilah: Pain of Paying
Saat kamu bayar pakai cash, otak kamu mengalami “psychological pain” rasa kehilangan yang nyata.
Tangan merogoh dompet, mata melihat uang berpindah tangan, dan hati ikut nyesek. Uang itu nyata, tangible, berwujud.
Ada ikatan emosional di sana.
Tapi saat kamu bayar pakai e-wallet, uang cuma berpindah dalam bentuk angka.
Tidak ada uang yang “pergi”.
Tidak ada lembar yang “hilang”.
Tidak ada rasa sakit yang cukup untuk bikin mikir dua kali.
Inilah yang dimanfaatkan oleh para desainer aplikasi keuangan.
GoPay, OVO, ShopeePay, DANA, m-banking, bahkan PayLater,
semua dibikin dengan prinsip design thinking:
Semudah dan sesenyaman mungkin. Tap. Swipe. Done.
No friction. No pain. No guilt.
Dan mereka berhasil.
Bukan bikin kamu lebih hemat.
Tapi bikin kamu makin gampang ngebuang duit.
Kita hidup di era yang menuhankan kemudahan. Tapi kemudahan itu mahal harganya, bukan cuma secara finansial, tapi secara kendali diri.
Saking mudahnya belanja, kita gak sadar lagi kalau sebenarnya sedang dikeruk pelan-pelan. Disuruh jalan ke ATM dulu aja malas, akhirnya gak jadi belanja. Tapi karena ada ShopeePay atau QRIS tinggal tap?
“GASSSS!”
Mau tahu kenapa banyak orang makin boros? Karena kita kehilangan rasa sakit saat membayar. Kita kehilangan keterikatan dengan uang itu sendiri. Uang sekarang cuma angka. Dan angka tidak menyentuh hati.
Jadi solusi agar gak boros?
Ciptakan keribetan. Serius.
• Mau beli online? Jangan pakai e-wallet, transfer manual aja.
• Mau jajan? Ambil dulu di ATM.
• Mau gofood? Gak usah top up. Masak sendiri.
Bikin prosesnya ribet. Biar mikir. Biar waras.
Karena terkadang yang bikin kita selamat bukan teknologi yang canggih yang memudahkan urusan kita, melainkan keribetan yang menyebalkan. Makin ribet makin hemat dan selamat.
Wallahu a’laam bishshowaab
—————
Ada 7 Aplikasi Dompet Digital
Berikut ini adalah beberapa dompet digital yang sudah terdaftar aman dan cukup populer digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Aplikasi dompet digital atau e-wallet menawarkan kemudahan dalam berbagai transaksi non-tunai, mulai dari belanja kebutuhan pokok, membayar tagihan, hingga berinvestasi.
Perlu dicatat, tidak semua penyedia layanan e-wallet bisa dipercaya. Di kasus tertentu, data pengguna bisa saja digunakan untuk hal-hal yang justru dapat merugikan.
Oleh karena itu, pengguna harus benar-benar selektif dalam memilih dan menentukan aplikasi mana yang akan digunakan.
Daftar Aplikasi Dompet Digital yang Umum Digunakan. Aplikasi e-wallet dapat Anda unduh melalui toko aplikasi resmi, seperti Google Play Store atau Apple App Store.
Berikut ini adalah beberapa dompet digital yang sudah terdaftar aman dan cukup populer digunakan oleh masyarakat Indonesia.
1. GoPay
GoPay merupakan aplikasi pembayaran milik GoJek di bawah GoTo Gojek Tokopedia Financial yang didirikan pada tahun 2016.
Awalnya, GoPay diciptakan hanya untuk sebatas melayani segala transaksi di GoJek, mulai dari GoCar, GoFood, dan GoSend.
Namun, sejak 2023, GoPay sudah bertransformasi menjadi e-wallet yang terpisah dari GoJek dan dapat digunakan untuk segala pembayaran dan transaksi di berbagai merchant.
Pada tahun 2022, GoPay meluncurkan fitur Landing Paylater dan GoPay Pinjam yang masih terus dikembangkan hingga kini.
Lalu di tahun 2023, aplikasi dompet digital ini bersama Bank Jago meluncurkan Gopay Tabungan by Jago yang memungkinkan pengguna melakukan tabungan dengan keuntungan dan penawaran bunga serupa di bank tanpa biaya tambahan dan kekhawatiran yang berlebih.
2. OVO
OVO adalah e-wallet digital besutan Grup Lippo yang rilis perdana pada Maret 2017.
Jika GoPay terhubung dengan GoJek, maka OVO tak bisa dipisahkan sebagai alat pembayaran GrabFood dan GrabBike.
Seperti GoPay, OVO juga bekerja sama dengan berbagai merchant sehingga dapat digunakan untuk berbagai pembayaran non-tunai lainnya.
Selain itu, jika penggunanya melakukan upgrade aplikasi ke versi premium dengan menggunakan kartu identitas, OVO juga bisa digunakan untuk membayar tagihan, mentransfer uang antarbank, serta membeli saham reksadana.
3. ShopeePay
ShopeePay merupakan aplikasi dompet digital yang dikembangkan oleh SeaMoney, perusahaan induk dari Shopee, platform e-commerce terbesar di Asia Tenggara.
Tujuannya adalah untuk menjadikannya alat pembayaran utama di dalam aplikasi belanja online tersebut.
Selain menjadi layanan pembayaran elektronik di dalam aplikasi Shopee, ShopeePay juga memiliki kemampuan untuk melakukan pembayaran di merchant offline yang bermitra dengan Shopee, dengan fitur scan Quick Response Indonesia Standard (QRIS).
Selain itu, ShopeePay juga menawarkan berbagai promo menarik, termasuk cashback, serta layanan pinjaman sementara yang disebut SPay Later dan SPay Pinjam.
4. DANA
DANA juga merupakan salah satu e-wallet populer di Indonesia yang menawarkan berbagai fitur lengkap bagi penggunanya.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan saldo dengan aman dan melakukan berbagai transaksi keuangan dengan mudah dan cepat.
Selain untuk berbelanja di mitra merchant-nya, beberapa fitur yang tersedia di dalam aplikasi DANA antara lain adalah, transfer saldo ke rekening bank lain, berbagi amplop kepada teman sesama pengguna DANA, serta pembayaran beragam tagihan.
Tidak hanya itu, DANA juga memfasilitasi fitur investasi emas secara online bag para penggunanya yang ingin mengelola keuangan dan berinvestasi melalui platform yang nyaman dan terpercaya.
5. DOKU
DOKU adalah layanan pembayaran elektronik pertama di Indonesia yang sudah eksis sejak tahun 2007 dan telah mengantongi 4 lisensi dari Bank Indonesia, meliputi e-money, e-wallet, payment gateway, dan remittance (transfer uang dalam valuta asing).
Fitur e-wallet atau dompet digitalnya sendiri baru diperkenalkan di tahun 2013. Namun telah menawarkan berbagai fitur transaksi cashless yang memudahkan para penggunanya.
Beberapa layanan yang disediakan oleh DOKU mencakup pembelian voucher, pembayaran tagihan, pencairan saldo, serta transfer dana ke sesama pengguna DOKU maupun rekening bank lain.
6. LinkAja
LinkAja adalah salah satu aplikasi dompet digital yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia saat ini.
Diluncurkan pada Juni 2019 oleh PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), LinkAja telah menjadi pilihan utama bagi banyak pengguna.
Sebagai produk pembayaran buatan anak perusahaan BUMN, dengan Telkomsel sebagai pemegang saham utamanya, LinkAja pun menjadi lebih dari sekadar layanan pembayaran biasa.
Ini karena LinkAja dapat digunakan untuk mengakses seluruh layanan yang dimiliki oleh BUMN, menjadikannya sebagai salah satu opsi yang paling terpercaya dalam dunia pembayaran digital di Indonesia.
7. Sakuku
Sakuku adalah dompet digital yang dikembangkan oleh salah satu bank terkemuka di Indonesia, yaitu Bank BCA.
Keunggulan utama yang terdapat dari aplikasi ini terletak pada keamanannya yang tinggi. Karena demi melindungi akses, aplikasi ini dilengkapi dengan fitur keamanan seperti PIN dan pemindaian sidik jari.
Selain itu, Sakuku juga memungkinkan penggunanya untuk melakukan transaksi keuangan tanpa perlu membawa uang tunai atau kartu fisik.
Aplikasi ini menyediakan beragam layanan, termasuk transfer dana ke rekening BCA atau bank lain, berbelanja di berbagai merchant yang bekerja sama dengan BCA, serta fitur penyimpanan uang.







Komentar