Dari Kendari ke Puncak Militer: Kiprah Gemilang Mayjen Faridah Faisal, Jenderal Perempuan Kebanggaan Indonesia
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Sosok Faridah Faisal menjadi bukti nyata bahwa keteguhan, kecerdasan, dan dedikasi mampu mengantarkan perempuan menembus batas dalam dunia militer. Lahir di Makassar pada 23 Juni 1968, ia tumbuh menjadi salah satu perwira tinggi perempuan paling berpengaruh di lingkungan TNI.
Tumbuh dari Tanah Kendari
Meski lahir di Makassar, masa kecil hingga remaja Faridah banyak dihabiskan di Kendari. Di kota inilah fondasi pendidikan dan karakter dirinya terbentuk.
Ia menempuh pendidikan dasar di SD 1 Wua-Wua, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kendari, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Kendari. Lingkungan sederhana namun penuh semangat belajar ini menjadi titik awal perjalanan panjangnya menuju puncak karier.
Menapaki Dunia Hukum dan Militer
Selepas pendidikan menengah, Faridah melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin, mengambil jurusan hukum. Ia meraih gelar Sarjana Hukum (SH), kemudian melanjutkan hingga memperoleh gelar Magister Hukum (MH).
Jalan hidupnya berubah saat ia memutuskan mengabdi kepada negara melalui jalur militer. Ia mengikuti pendidikan Sepamilwa (kini dikenal sebagai Sepa PK TNI) pada tahun 1992, dari kecabangan Korps Hukum (Chk).
Di sinilah ia mulai mengukir karier sebagai perwira militer di bidang hukum sebuah jalur yang menuntut ketelitian, integritas, dan keberanian dalam menegakkan keadilan di lingkungan militer.
Mencetak Sejarah di Pengadilan Militer
Karier Mayjen Faridah terus menanjak hingga akhirnya mencapai puncak prestasi yang membanggakan. Pada 9 Februari 2026, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Pengadilan Militer Utama (Kadilmiltama) jabatan tertinggi dalam sistem peradilan militer Indonesia.
Lebih dari sekadar jabatan, pencapaian ini mencatatkan sejarah: Faridah Faisal menjadi perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut.
Simbol Keteguhan dan Inspirasi
Sebagai seorang istri dan ibu, sekaligus jenderal bintang dua, Faridah membuktikan bahwa perempuan mampu menjalankan peran ganda dengan luar biasa. Ia tidak hanya berdiri sebagai penegak hukum di lingkungan militer, tetapi juga sebagai inspirasi bagi generasi muda khususnya perempuan Indonesia.
Kisah hidupnya adalah refleksi dari perjuangan tanpa henti: dari lorong-lorong sekolah di Kendari hingga ruang sidang tertinggi militer. Sebuah perjalanan yang tidak hanya mengangkat namanya, tetapi juga membawa harapan bagi banyak orang.







Komentar