Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Pendiri PT Jababeka Tbk Setyono Djuandi Darmono dalam wawancara B-Oneindonesia.com, Jakarta, Selasa (30/12/2025) menjelaskan pandangannya mengenai peran pengusaha untuk memberdayakan masyarakat dalam proses pembangunan bangsa.
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan refleksi dan kontribusi dari pria yang dikenal denga SD Darmono itu dalam membantu pemerintah mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Selain itu, Setyono juga menyinggung isu Sumber Daya Manusia (SDM). Ia menjelaskan bahwa ketersediaan tenaga kerja di sejumlah kawasan, khususnya di Pulau Jawa yang memiliki banyak pusat pendidikan seperti SMK dan Politeknik, sudah cukup memadai.
“Namun, kondisi berbeda terjadi di daerah lain yang masih menghadapi keterbatasan SDM” jelas Darmono pengusaha dan pendidik yang peroleh gelar Dr HC dari Glasgow University.
PT Jababeka Tbk, lanjut Setyono, secara aktif mendorong pengembangan kawasan industri yang terintegrasi.
“Pengembangan ini harus didukung oleh ketersediaan SDM serta infrastruktur penunjang yang sesuai dengan kebutuhan investasi yang masuk” jelasnya sebagai Chairman PT Jababeka Tbk dan pendiri President University.
Wawancara Akhir Tahun 2025
John Sayuti (JS) Portal Berita B-Oneindonesia.com dengan
Setyono Djuandi Darmono (SDD) Pendiri & Chairman PT Kawasan Industri Jababeka Tbk
JS: Pak Darmono, kita menutup tahun ini dengan situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Apa yang paling Bapak rasakan dari kondisi ini?
SDD: “Ketidakpastian hari ini bukan lagi siklus biasa. Ia bersifat struktural, perubahan geopolitik, teknologi dan demografi terjadi bersamaan. Dalam situasi seperti ini, menunggu kejelasan justru berisiko. Yang lebih penting adalah menyiapkan fondasi agar kita tetap relevan dalam berbagai skenario”.
JS: Apa fondasi yang Bapak maksud?
SDD: “Manusia dan demand. Aset fisik, tanah, gedung bisa menunggu, tetapi keterampilan manusia dan pasar tidak bisa ditunda. Karena itu, ke depan saya berharap lebih banyak kolaborasi nyata untuk mengaktifkan aset yang belum termanfaatkan menjadi ruang produktif yang langsung terhubung dengan kebutuhan pasar”.
JS: “Kolaborasi seperti apa yang Bapak bayangkan?
SDD: “Bukan program pelatihan yang berdiri sendiri. Saya membayangkan kolaborasi dengan pelaku usaha yang punya pasar, pemilik teknologi proses, dan penyandang dana yang siap menumbuhkan skala.
Intinya sederhana: belajar sambil memproduksi, dan memproduksi karena ada yang menyerap”.
JS: “Mengapa fokus pada makanan, kesehatan, dan hospitality?
SDD: “Karena tiga sektor ini tahan krisis. Orang mungkin menunda beli properti atau mobil, tetapi tidak menunda makan, berobat, dan kebutuhan layanan dasar. Selain itu, sektor-sektor ini padat karya, cepat dilatih, dan dampaknya langsung terasa baik secara ekonomi maupun sosial”.
JS: Apa peran Jababeka dalam skema ini?
SDD: “Kami tidak ingin menjadi operator segalanya. Peran kami adalah menyediakan ruang, infrastruktur, dan ekosistem kawasan, lalu mempertemukan mereka yang punya pasar, teknologi, dan modal.
Saya percaya nilai terbesar hari ini bukan pada siapa yang paling besar, tetapi siapa yang mampu mengorkestrasi kolaborasi”.
JS: Sebagian orang berharap solusi datang dari negara. Bagaimana pandangan Bapak?
SDD: “Negara punya peran penting, tetapi dunia usaha tidak bisa menunggu. Dalam masa tidak pasti, inisiatif harus datang dari mereka yang berada paling dekat dengan pasar. Jika ekosistem bisnis bergerak, dampaknya akan dirasakan luas, dan di situlah kebijakan publik biasanya menyusul”.
JS: Apa harapan pribadi Bapak untuk tahun depan?
SDD: “Harapan saya sederhana tapi mendasar, agar kita berhenti menumpuk aset pasif dan mulai mengubahnya menjadi aset sosial produktif. Jika lebih banyak pelaku usaha berani membuka diri untuk berkolaborasi berbagi risiko, berbagi pasar, dan berbagi pengetahuan, saya yakin kita tidak hanya bertahan, tetapi menciptakan peluang baru di tengah ketidakpastian.”.
JS: Pesan penutup untuk dunia usaha?
SDD: “Dalam dunia yang tidak pasti, yang paling berbahaya adalah menunggu kepastian.
Lebih baik kita menciptakan demand bersama, menumbuhkan keterampilan bersama, dan membangun masa depan dengan langkah-langkah yang nyata, meski bertahap”.













Komentar