Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Polemik isu ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo makin memanas. Kali ini, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ikut terseret setelah muncul tudingan adanya “kongkalikong” dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk membangun narasi ijazah Jokowi palsu.
Tudingan yang pertama kali dilontarkan Politikus Demokrat Andi Arief di media sosial itu langsung memicu reaksi keras dari internal PDIP. Partai banteng merasa tuduhan tersebut adalah fitnah serius yang mencederai kehormatan Megawati.
Politikus PDIP Guntur Romli menyatakan, saat ini pihaknya tengah membahas langkah hukum sebagai respons atas tudingan yang dinilai sangat merugikan.
“Kami juga sedang membahas upaya hukum karena mengalami nasib yang sama. Fitnah seperti ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Guntur.
Menariknya, langkah hukum ini disebut bukan atas perintah langsung Megawati, melainkan muncul sebagai inisiatif otomatis para kader. Guntur menegaskan, membela kehormatan Ketua Umum sudah menjadi refleks politik bagi kader PDIP.
“Tidak ada perintah dari Ibu Megawati. Membela kehormatan ketua umum itu otomatis bagi kader,” ujarnya.
Di sisi lain, PDIP juga menyatakan dukungan langkah hukum SBY yang lebih dulu mempertimbangkan somasi terhadap pihak-pihak yang mengaitkan namanya dalam isu ijazah Jokowi. PDIP menegaskan, polemik ijazah Jokowi kini bukan lagi urusan partai, sejak Jokowi resmi dipecat dari PDI Perjuangan.
Sementara itu, Andi Arief menyebut SBY merasa terganggu dan difitnah, bahkan dituduh berkolaborasi dengan Megawati. Andi menegaskan tuduhan tersebut tidak benar dan hubungan SBY dengan Jokowi selama ini baik-baik saja.
Pengamat Politik Adi Prayitno memprediksi, tahun 2026 akan menjadi babak baru polemik ijazah Jokowi, karena isu tersebut sudah bergeser dari perang opini menuju ranah hukum. Menurutnya, hanya pengadilan yang mampu memutus simpang siur klaim kebenaran yang tak berkesudahan.
Kini publik menanti: apakah polemik ini akan benar-benar berujung di meja hijau, dan siapa yang akan dinyatakan benar?







Komentar