Yulianto Widirahardjo Aktivis Universita Pancasila angkatan 90 penggagas/inisiator acara bersama
dr. Zulkifli ekomei, Dr. Asvi Marwan Adam, Pande K. Triwahyuni, Prof. Suzie Sudarman, Prof. Ikra Nusa Bakti, Nanda Abraham, Bob Randilawe, Lukas Luwarso dalam diskusi Gerakan 80, 90 dan Gen Z dikawasan Jagakarsa, Senin (01/06/26).
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Inisiator Tim Wali Kemang Yulianto mengatakan, upaya ideologi negara Pancasila harus kontekstual sesuai dengan tantangan yang dihadapi di era kekinian. Kontekstual dalam hal metode penyampaian maupun konten atau isi materi yang disampaikan sesuai dengan kondisi saat in agar mudah dipahami dan diterima generasi muda masa kini.
“ Ideologi negara Pancasila tidak lagi dengan cara-cara doktrinasi seperti di era kita dulu berupa penataran atau pelajaran yang melulu teoritis. Dalam konteks kekinian, ideologi Pancasila harus sesuai dengan apa yang dinginkan generasi muda di era digital dan teknologi informasi yang semakin canggih seperti sekarang,” kata Yulianto kepada wartawan sesudah acara diskusi peingatan hari lahirnya Pancasila 1Juni di Restoran Griya Paso, Jakarta Selatan, Senin 01 Juni 2026.
Selain Yulianto tampil sebagai narasumber diskusi dalam rangka hari lahirnya Pancasila itu adalah dr. Zulkifli ekomei, Dr. Asvi Marwan Adam, Pande K. Triwahyuni, Prof. Suzie Sudarman, Prof. Ikra Nusa Bakti, Nanda Abraham, Bob Randilawe, Lukas Luwarso
Menurut Yulianto perlu dicarikan metode yang paling relevan dan kontekstual untuk ideologi Pancasila untuk generasi muda sesuai era digital dan teknologi komunikasi yang canggih seperti saat ini.
Yulianto mengaku sangat yakin dan percaya kaum muda memahami dan tetap menerima nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi, menerima keanekaragaman dan sebagainya.
“Pancasila tidak hanya dasar falsafah, melainkan living ideology yang harus dihidupi dalam keseharian, diperjuangkan dalam kebijakan dan menjadi bintang penuntun bagi pembangunan nasional,” tegas Yulianto yang menggagas acara diskusi yang berlangsung tersebut.
Hari lahirnya Pancasila yang dihadiri peserta dari berbagai organisasi dan komunitas itu sekaligus diskusi dengan tema “Pancasila di Era Kekinian 2026”
Diskusi tersebut untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi bangsa yang relevan di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi digital dan meningkatnya tantangan intoleransi dan disintegrasi.
Diskusi “Pancasila di Era Kekinian 2026” menghadirkan refleksi historis dan strategi aktual untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi kerja bangsa.
Menurut Yulianto sejarah mencatat, sejak pidato Ir Soekarno pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPK, Pancasila dirumuskan sebagai dasar negara yang komprehensif, konstruktif dan sistematis.
Perjalanan bangsa, mulai dari Piagam Jakarta, Dekret Presiden 5 Juli 1959 hingga reformasi, menunjukkan bahwa Pancasila senantiasa menjadi penuntun dinamis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, survey Harian Kompas 2014–2016 mencatat hanya 43% generasi muda yang percaya pada Pancasila dan 48% yang yakin NKRI akan tetap utuh. Angka ini menjadi peringatan serius akan perlunya strategi baru dalam menanamkan nilai Pancasila, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z yang menjadi penentu masa depan bangsa.
Faktor disintegratif yang lahir dari praktik demokrasi elektoral, intoleransi dan kepentingan sempit kelompok menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa.
Karena itu, hari lahirnya Pancasila di Era Kekinian 2026 menekankan perlunya revolusi mental, nation and character building dan strategi pembangunan inklusif yang berpusat pada manusia (people centered development).
Pada hari lahirnya Pancasila dilakukan untuk mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi negara yang dinamis, memperjuangkan kepribadian dalam kebudayaan, berdikari dalam perekonomian, meneguhkan negara hukum berdasar Pancasila, memperkuat kohesi sosial masyarakat dan menjaga kedaulatan politik dan pertahanan nasional.
Dikatakan, Pancasila diposisikan sebagai katalisator untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam bingkai Indonesia Raya, sejalan dengan konsep Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sementara itu, Pidato Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Jeju Forum Korea Selatan (2017) menegaskan bahwa Pancasila mampu menjawab persoalan dunia dan relevan bagi seluruh umat manusia. Dengan semangat itu, Pancasila di Era Kekinian 2026 hadir untuk mengingatkan kembali bahwa nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, dan ketuhanan tetap menjadi fondasi utama peradaban bangsa Indonesia.
“Pancasila di Era Kekinian 2026 tidak hanya menjadi catatan reflektif, tetapi juga panduan praktis dalam menghidupkan kembali Pancasila di tengah tantangan zaman, sekaligus mengikat generasi muda agar tetap teguh pada identitas kebangsaan,” kata Lukas Luwarso selaku pembicara agenda diskusi itu.










Komentar