Pengkritik Datang & Pergi Tak Jarang “Diterkam” Kritikannya Sendiri

Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Benar juga sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa kritikan itu mestinya dijawab dengan kerja, bukan kritikan balik yang hanya akan menimbulkan perdebatan yang tak menyelesaikan masalah atau tak menjawab dari kritikan itu sendiri.

Lagian, pengkritik itu sendiri biasanya mereka yang iri saja, tak sadar posisi, bahkan ada juga yang tak tahu diri. Jarang juga yang benar-benar dari hatinya ingin adanya perbaikan yang sebenarnya. Kandang, menjelang dapat saja. Setelah dapat, mingkem.

Makanya, pengkritik pun datang dan pergi. Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, adalah yang datang. Yang pergi, entah sebanyak entah. Ada yang Ketua-ketua BEM juga, ada juga yang tidak. Bahkan, tak jarang pengkritik itu “diterkam” oleh kritikannya sendiri.

Terbaru, Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas yang happy betul anaknya menjadi Warga Negara Asing (WNA). Ia membuat posting begini: “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan! Kita usahakan anak-anak dengan pasport kuat WNA itu, lets go!”

Tyas dan suaminya, ternyata penerima beasiswa LPDP. Sebuah beasiswa yang dikelola di bawah Menkeu. Sudah hidupnya dibantu negara, tapi dia tak sedikitpun bangga dengan negaranya sendiri. Dipublikasikan pula. Ini di antara yang tak tahu diri.

Makanya pemimpin, khususnya Presiden Prabowo, menjawab kritik dengan kerja saja. Kalau nanti program MBG, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Koperasi Desa berhasil, maka kritikan itu akan berhenti, atau bahkan malu dengan sendirinya.

Termasuk, keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace. Sekarang saja suara-suara itu sudah mulai berkurang. Ingat, puluhan tahun kemerdekaan Palestina itu gagal, saat akan dicoba, baru dimulai, sudah dianggap gagal, bahkan dituduh antek Israel.

MBG juga seperti itu. Belum apa-apa, sudah dinilai gagal. Sebagian karena iri saja, tidak dapat bagian. Orang lain seperti berpesta, kita kok tak ikut serta? Gratiskan pendidikan, semua akan dapat. Naikan gaji guru, dosen, dll. Masalahnya, uangnya tak cukup.

Bukan kritikan tak perlu didengar. Perlu didengar, langsung diperbaiki, diluruskan kalau salah. Tapi tetap saja, yang paling tepat dilakukan terhadap kritikan itu adalah kerja nyata yang terus diperbaiki. Kalau menggoblok-goblokin orang itu bukan kritik namanya.

Komentar