Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Setiap Tanggal 2 Mei menjadi peringatan Hari Pendidikan Nasional. Di hari itu kembali diingatkan akan pentingnya mencetak generasi bangsa yang unggul. Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, selalu membawa pada satu refleksi: sejauh mana ilmu yang kita pelajari benar-benar ‘hidup’ di masyarakat?
Pendidikan bukan hanya sebuah teori di ruang kelas, tapi harus menjadi ruang persiapan hidup yang konkret. H.C. Setyono Djuandi Darmono, seorang pengusaha yang juga pendiri President University, sebuah perguruan tinggi swasta yang dirancang dari tahun 1997.
Pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono, mengambil keputusan strategis untuk menanamkan modal di sektor pendidikan saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997.
Darmono menyadari bahwa masa krisis tersebut merupakan tantangan yang sangat berat bagi dunia usaha di tanah air.
Meski kondisi ekonomi sedang sulit, ia tidak hanya berfokus pada upaya penyelamatan bisnis pribadinya, melainkan melihat adanya persoalan mendasar pada bangsa.
Darmono mengamati bahwa selama ini Indonesia terlalu bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam serta ketersediaan tenaga kerja dengan upah murah.
Ia berpendapat bahwa di masa depan, Indonesia wajib menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keterampilan tinggi dan siap pakai di dunia kerja.
Pandangan Darmono menunjukkan bahwa sistem pendidikan pada periode tersebut dinilai belum mampu memenuhi standar dan kebutuhan yang diminta oleh industri.
Dalam proses perekrutan karyawan, Darmono mengungkapkan fakta bahwa dirinya tidak menggunakan indeks prestasi sebagai satu-satunya indikator keberhasilan seseorang.
Terdapat kriteria lain yang menjadi pertimbangan utama, mulai dari penguasaan bahasa asing hingga pengalaman kerja nyata yang dimiliki kandidat.
Darmono juga menekankan pentingnya eksposur internasional bagi tenaga kerja agar mampu bersaing secara global di berbagai sektor industri.
Selain aspek teknis, pembentukan karakter serta latar belakang seseorang turut menjadi faktor penentu dalam penilaian profesional yang ia terapkan.
Setyono Djuandi Darmono selaku pendiri President University mengungkapkan pengalaman nyata saat dirinya mulai membangun institusi pendidikan tersebut. Perjalanan tersebut diwarnai dengan tantangan besar dalam menjaring minat calon mahasiswa di masa awal berdiri.
Darmono sempat memasang iklan dalam skala besar guna menarik pendaftar. Namun, upaya tersebut ternyata memberikan hasil yang tidak terduga karena tidak ada satu pun calon mahasiswa yang mendaftarkan diri ke kampusnya.
Situasi sulit tersebut tidak membuat Darmono menyerah begitu saja pada keadaan. Dirinya justru mengambil langkah alternatif yang tergolong nekat dengan mulai membidik calon mahasiswa dari luar negeri untuk mengisi angkatan pertama.
Langkah pencarian mahasiswa ke mancanegara ini dinilai sangat berani mengingat kondisi internal Indonesia saat itu baru saja melewati masa reformasi dan belum sepenuhnya stabil.
Darmono fokus melakukan penetrasi ke beberapa negara di Asia. Usaha keras tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan datangnya para pendaftar pertama dari luar Indonesia.
Kampus berhasil merekrut 24 mahasiswa yang berasal dari China serta 12 mahasiswa dari Vietnam untuk menempuh studi di sana.
Tidak hanya sekadar melakukan rekrutmen, Darmono juga mengambil kebijakan ekstrem untuk mendukung pendidikan mereka. Dirinya memutuskan untuk membiayai secara penuh seluruh biaya pendidikan bagi para mahasiswa asing tersebut
Keberhasilan Lulusan Angkatan Pertama
Jika dikalkulasi secara keseluruhan, angkatan pertama President University hanya terdiri dari 48 mahasiswa. Jumlah ini sudah mencakup para mahasiswa yang berasal dari dalam negeri atau Indonesia sendiri.
Meski dimulai dengan jumlah yang terbatas dan tantangan yang berat, para perintis tersebut kini telah membuktikan kualitasnya. Sebanyak 48 mahasiswa yang menjadi angkatan pertama tersebut dilaporkan telah meraih kesuksesan dalam meniti karier di bidangnya masing-masing.
“Kini, 48 mahasiswa angkatan pertamanya telah sukses dengan karier masing-masing,” tutur Setyono Djuandi Darmono mengenang pencapaian para lulusan pertamanya tersebut.











Komentar