Dubes Djumala Harapkan Diplomasi Ekonomi oleh Kemlu untuk Hadapi Rivalitas Geopolitik & Geoekonomi Dunia

Dr. Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri,

Jakarta (B-Oneindonesia.com) – “Fungsi diplomasi ekonomi tidak boleh direduksi hanya dalam konteks ekonomi bisnis-sektoral semata, tapi harus dipahami dan dilaksanakan dalam perspektif geopolitik dan geoekonomi global. Karena itu pembentukan kembali direktorat jenderal yang secara khusus menangani diplomasi ekonomi di Kemlu adalah langkah yang relevan dan perlu diapresiasiā€, demikian pernyataan Dr. Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, menanggapi Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026, di Ruang Nusantara, Kemlu, Rabu, 14 Januari 2026. Unit kerja yang khusus menangani diplomasi ekonomi itu selevel eselon satu dan diberinama Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan (HEKSP).

Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa pembentukan unit kerja diplomasi ekonomi itu dimaksudkan untuk menegaskan peran Kemlu sebagai strategic enabler dalam melakukan debottlenecking berbagai isu ekonomi krusial.

Dr. Djumala, yang pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Austria dan PBB, mengungkapkan unit diplomasi ekonomi bukan hal baru dalam perjalanan sejarah Kemlu.

Pada masanya pernah ada unit selevel eselon satu di Kemlu yang khusus menangani diplomasi ekonomi, yaitu Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri (HELN), sebelum dibubarkan pada 2001.

Terkait dihidupkannya kembali ditjen urusan diplomasi ekonomi, Dubes Djumala mengingatkan bahwa pembentukan Ditjen HEKSP Kemlu bukan sekadar penambahaan struktur birokrasi dan kelembagaaan. Langkah ini mencerminkan kesadaran bahwa diplomasi ekonomi kembali menjadi jantung kebijakan luar negeri, terutama di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh rivalitas geopolitik dan geoekonomi global.

Dikatakannya, dewasa ini ekonomi internasional tidak lagi beroperasi dalam ruang netral dan teknokratis. Dengan semakin kompleksnya interelasi antara geopolitik dan geoekonomi, diplomasi ekonomi tradisional yang hanya mempromosikan TTI (trade, tourism, investment) terasa usang. Kini isu perdagangan, investasi, pariwisata dan bantuan pembangunan menjadi bagian dari power politics

Komentar