Jakarta (B-Oneindonesia.com) – SAYA membayangkan bahwa pekerjaan wartawan sekarang semakin dimanjakan. Maaf – mereka tidak perlu capai-capai ke lapangan toh bahan berita bisa dibagi rekan-rekan wartawan lainnya melalui grup whatsApp.
Jadi wartawan tidak perlu datang ke tempat acara atau apapun namanya itu. Toh nanti bahan berita bakal di-share kok.
“Bro sory aku telat dating nih. Nanti bahan beritanya di-share di grup WhatsApp ya?” begitu seorang wartawan di sambungan telepon genggamnya.
Belum lagi wartawan yang nge-beat di suatu pos akan mudah memperoleh berita.
Ada WhatsApp grup dari instansi tertentu yang tiada henti memborbardir wartawan dengan pelbagai informasi.
Belum lagi kiriman siaran pers melalui email yang juga bejibun. Asyik banget ya. Target sekian berita dalam sehari akan terlampaui. A lamak!
Kondisi ini ada yang menyebutnya sebagai Jurnalisme Copy Paste. Hanya memindahkan kata atau kalimat yang dirilis lalu kutak-kutik maka jadilah berita itu.
Ya, tinggal mengubah judul atau lead berita saja. Gampang kan?
Padahal menurut Sindhunata wartawan Kompas tahun 1970-an, hidup wartawan bukanlah di kantor tetapi di jalanan.
Bersama fotografer Kartono Ryadi, Sindhunata hampir setiap hari berada di jalanan. Kartono belum mempunyai mobil. Kendaraannya hanyalah vespa seperti juga kendaraan yang dimiliki Sindhunata.
Dengan vespa itulah kedua wartawan itu membela liak-liuk Jakarta. Mereka kadang tidak tahu kemana harus pergi dan sama sekali tidak merasa pasti: apakah akan menemukan objek yang menarik untuk ditulis atau difoto pada hari itu.
Maka mereka pun terus tiada henti menyelusuri perut Jakarta sampai akhirnya menemukan obyek jurnalistik.
Terkadang Sindhunata dan sang fotografer Kartono Ryadi pulang dengan tangan hampa: tak menemukan objek jurnalistik yang menarik untuk ditulis atau difoto.
Dengan vespa kendaraan yang lumayan nyaman untuk mencari berita. Dengan vespa itu pula Sindhunata dan Kartono Ryadi menapaki Jakarta.
Kalau hujan, mereka berteduh di tengah jalan. Jika lapar, keduanya makan di warung manapun yang dijumpai di jalanan.
Pengalaman itulah yang akhirnya muncul rumusan bagi Sindhunata tentang pegangan jurnalistik yakni “Wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak.”
Artinya, wartawan itu harus mencari obyek beritanya dengan menggunakan kakinya, dengan berjalan terlebih dahulu, sebelum ia menggunakan otak dan pikirannya.
Secemerlang apapun otak seorang wartawan, kalau ia malas menggunakan kakinya, ia tidak akan memperoleh berita yang autentik.
Masalahnya sekarang masih adakah wartawan yang berpegang pada rumusan sederhana itu? Apalagi di tengah kemajuan teknologi komunikasi yang buat segalanya instan dan siap tersaji.
Contohnya ketika pandemi virus corona mencuat, wartawan tidak perlu lagi capai-capai di jalan cukup masuk ke zooming atau webinar maka dalam sekejap berita pun jadi dibuat.
Segalanya menjadi lebih mudah diperoleh tanpa harus berkeringan apalagi panas-panasan di jalan. Sudah bukan zamannya lagi. Mungkin begitu! Cari berita sekarang ini mudah banget.
Lantas di mana hakekatnya wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak. Sekarang terbalik agaknya.
Sekarang cukup masuk ke zooming atau webinar atau buka smartphone dan cek di WhatsApp grup maka segala informasi dan tetek-bengeknya tersaji di sana.
Pekerjaan kaki telah ditinggalnya. Dengan sambil ngopi di Starbucks atau nongkrong di mal yang ber-AC, si wartawan sudah dengan muda mendapatkan bahan berita. Tinggal kemudian menuliskannya. Rumusan 5W+1H selanjutnya digunakan! Simpel kan?
Kondisi itu memang jauh berbeda ketika saya memulai profesi sebagai wartawan sesungguhnya tahun 1989 lalu. Sebelumnya – karena masih kuliah – saya hanya menjadi wartawan magang. Ada yang menyebut sebagai kontributor di beberapa media cetak.
Saya juga merangkap menjadi pers kampus dengan modal kartu pers laminating yang sangat sederhana.
Ketika terjun di media arus utama sangat jarang calon reporter masuk menjadi reporter di desk metropolitan.
Sebagian besar calon reporter ingin menjadi wartawan yang adem alias liputan di tempat ber-AC seperti di lantai bursa. Lalu seminar yang berlangsung di hotel berbintang yang ketika break makan siang tersajikan menu makanan yang aduhai nikmatnya.
Jarang ada calon reporter yang mau berpanas-panas apalagi berhimpitan di bus atau bergelantungan di kereta. Copet mengintai atuh!
Saya beruntung memilih menerpa diri sebagai reporter di desk metropolitan. Desk yang tidak pernah ada matinya. Siapa yang tahu bakal terjadi Jaya 65 atau kebakaran.
Siapa yang tahu bakal ada pembunuhan keluarga Acan di Bekasi. Atau siapa tahu ada Nyonya Diah yang dimutilasi oleh suaminya, guru di daerah Kemayoran Jakarta Pusat.
Ketika reporter desk lain tengah pulas tertidur di kasur yang empuk, saya sebagai reporter desk metropolitan harus ngalong hingga subuh.
Mata ini harus terus melotot dan sesekali memonitor dari handy talky memantau taruna atau kejadian. Belum lagi menunggu pager starco berbunyi: muncul perintah dari sang editor yang galaknya minta ampun.
Kalau bobol berita maka keluarga Kebun Binatang Ragunan bakal meluncur bak meriam: bertubi-tubi; tiada henti! Cuma rapat redaksi yang bisa menghentikan omelan sang redaktur. Karena dia wajib ikut rapat proyeksi.
Belum lagi reporter desk metropolitan wajib giliran mangkal di kamar mayat RSCM Jakarta Pusat. Bau anyir mayat minta ampun deh. Setiap mampir ke sana untuk aplusan wajib bawa minyak angin atau kayu putih.
Apalagi jika ada banden atau mayat yang baru ditemukan dua atau tiga hari. Baunya itu lho! Jika belum terbiasa pasti bakal muntah dan muntah!
Ya, kini semuanya telah berubah. Jauh banget! Wartawan sekarang bisa dibilang terbuai dengan teknologi komunikasi yang serba canggih. Di satu sisi memang memudahkan pekerjaan wartawan tetapi di sisi lain – bisa jadi – justru bumerang karena terbuai dan lupa pada fungsinya media yang kritis dan kritis.
Berita akhirnya seragam karena menjadi satu tone atau nada. Sama sekali tidak ada pendalaman. Hanya informasi permukaan belaka. Dan yang rugi adalah pembaca yang sebenarnya membutuhkan informasi yang jauh lebih dari sekadar unsur what, who, where dan when. Pembaca membutuhkan penjelasan mengenai how dan terutama why di balik sebuah peristiwa atau kejadian.
Parahnya lagi kondisi itu dibuat runyam lagi dengan wartawan yang tanpa sadar mulai terbawa dengan jurnalisme omongan. Kutip sana, kutip sini. Dari omongan orang atau nara sumber. Pembaca hanya disajikan kutipan nara sumber ngomong dan ngomong.
Di saat bersamaan wartawan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencari data dari internet atau basis data, risikonya adalah mereka bisa menjadi kian pasif, lebih menjadi penerima ketimbang pengumpul.
Untuk melawan ini, pemahaman yang lebih baik tentang makna asli objektivitas bisa membantu menempatkan berita pada pijakan yang lebih kukuh.
Akhirnya memang hakikat profesi wartawan kembali kepada jati dirinya yang sesungguhnya. Mungkin benar yang yang dikatakan Sindhunata bahwa “Wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak.”
Wartawan itu harus mencari objek beritanya dengan menggunakan kakinya, dengan berjalan terlebih dahulu, sebelum ia menggunakan otak dan pikirannya.
Secemerlang apapun otak seorang wartawan, kalau ia malas menggunakan kakinya, ia tidak akan memperoleh berita yang autentik.
Sekadar saran saja – semoga diterima – sudah saatnya wartawan menghindari Jurnalisme Copy Paste ya. Dan ingat bahwa hidup wartawan itu di jalanan lho.. (Norman Meoko)







Komentar