Diskusi memperingati 153 tahun kelahiran Ibu Maria Walanda Maramis diselenggarakan DPP Kerukunan Keluarga Kawanua (DPP KKK) bersama Rektor IBM ASMI Angelica Tengker di Auditorium IBM ASMI pada Selasa (2/12/2025).
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Diskusi digelar untuk memperingati 153 tahun kelahiran Ibu Maria Walanda Maramis, sekaligus menandai dimulainya Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diprakarsai DPP Kerukunan Keluarga Kawanua (DPP KKK)
Maria Walanda Maramis lahir pada 1 Desember 1872 di Kema, Sulawesi Utara, dan meninggal pada 22 April 1924 di Maumbi, Sulawesi Utara, pada usia 51 tahun. Ia diakui sebagai pahlawan nasional atas perjuangannya dalam memajukan hak-hak dan pendidikan kaum perempuan Indonesia, khususnya di Minahasa.
Pembicara diskusi Rektor IBM ASMI Angelica Tengker mengingatkan kembali peran Pahlawan nasional Maria Walanda Maramis dalam memperjuangkan kesetaraan hak politik dan pendidikan bagi perempuan.
“Maria Walanda Maramis menggunakan kekuatan media untuk memperjuangkan suara dan hak perempuan agar bisa setara dengan kaum pria, duduk di dunia politik dan hak mendapatkan pendidikan tinggi dan maju” dikatakan Angelica Tengker dalam diskusi ilmiah memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) di Auditorium IBM ASMI pada Selasa (2/12/2025).
Peringatan di IBM ASMI dilakukan dengan diskusi untuk membedah nilai perjuangan dan visi besar yang diwariskan oleh tokoh pahlawan nasional asal Minahasa.
Lebih jauh Angelica Tengker menilai Maria memberikan inspirasi dan pejuang yang hebat dalam diplomasi dan mengharumkan nama bagi warga Minahasa.
“Maria adalah sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat kebiasaan, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan,” ujarnya.
Diskusi bertajuk Mewarisi Jejak Perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis dikatakan Waketum Dewan Pimpinan Kerukunan Keluarga Kawanua Dr Audrey Tangkudung adalah sosok pahlawan yang membanggakan warga Kawanua.
“Diskusi ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga momentum memperkuat komitmen kolektif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih adil, aman, dan bebas kekerasan terhadap perempuan, sebagaimana cita-cita perjuangan besar Ibu Maria Walanda Maramis” tutupnya.













Komentar