Jurus Setyono Djuandi Darmono Bagi Investor Bisa Masuk Indonesia

Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), Setyono Djuandi Darmono

Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan kawasan industri termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di berbagai wilayah di Indonesia sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, mendorong pembangunan, meningkatkan daya saing dan investasi hingga penciptaan lapangan kerja.

Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), Setyono Djuandi Darmono mengatakan minat investasi dan permintaan lahan di kawasan industri di tengah gejolak ekonomi global sangat tergantung dengan berbagai faktor utamanya terkait ketersediaan infrastruktur.

Hal ini tercermin dari kinerja pengembangan 2 kawasan industri KIJA yakni di Cikarang dan Kendal, dimana permintaannya sangat terkait dengan stabilitas politik dan daya saing Indonesia terkait ketersediaan infrastruktur dibanding ASEAN seperti Vietnam dan Kamboja.

Setyono Djuandi Darmono mengatakan jaminan stabilitas politik dan infrastruktur sangat penting untuk memastikan keberlangsungan, ketepatan produksi dan daya saing industri. Selain itu regulasi yang kondusif juga menjadi hal penting untuk membuat ‘image’ positif Indonesia di mata investor.

Saat ini infrastruktur terkait logistik (jalan, pelabuhan, angkutan udara), jaminan air, gas, listrik, sementara terkait upah pertimbangannya tergantung jenis industri bagi sektor padat karya faktor upah akan menjadi perhatian investor.

Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono menegaskan bahwa pengalaman menunjukkan investor sangat sensitif terhadap kesiapan infrastruktur, khususnya logistik dan utilitas dasar.

“Yang pertama tentu infrastruktur. Kalau infrastrukturnya baik, investor bisa memproduksi tepat waktu dan mengirim barang ke negara tujuan tanpa hambatan,” ujar Darmono dalam sebuah diskusi TV CNBC di Jakarta.

Ia menjelaskan, infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan pelabuhan, jalan tol, dan akses logistik, tetapi juga mencakup ketersediaan listrik, gas, air, serta tenaga kerja. Ketidakpastian pasokan energi, terutama gas, masih menjadi keluhan utama investor di berbagai kawasan industri.

“Kalau listrik mahal, gas mahal, atau kadang ada kadang tidak, itu menjadi handicap besar bagi perusahaan yang membutuhkan kepastian,” katanya.

Darmono juga menyoroti pentingnya citra Indonesia sebagai negara yang ramah terhadap investor asing. Menurutnya, meskipun sistem perizinan terintegrasi melalui Online Single Submission (OSS) sudah berjalan, dalam praktiknya masih sering ditemui kendala.

“OSS itu sistem yang baik, tapi karena masih relatif baru, kadang justru menjadi hambatan. Ini perlu disikapi dengan pelayanan yang lebih baik di tiap kawasan industri,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan suatu kawasan industri tidak bisa disamaratakan. Faktor pengalaman pengelola, kemampuan menghadapi birokrasi, serta kesiapan infrastruktur menjadi pembeda antara kawasan yang sukses dan yang sulit menarik investor.

Cikarang dan Kendal Jadi Contoh Kawasan Sukses

Dari sisi praktik, kawasan industri Cikarang dinilai memiliki ekosistem yang matang setelah berkembang lebih dari 36 tahun. Kedekatannya dengan Jakarta, pelabuhan, jalan tol, hingga keberadaan dry port menjadi keunggulan utama.

Sementara itu, Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah disebut sebagai contoh sukses lain berkat dukungan kuat pemerintah dan skema kerja sama government to government (G2G) antara Indonesia dan Singapura.

“Kendal ini joint venture antara Jababeka dengan Sembcorp Singapura. Diresmikan langsung oleh Presiden dan Perdana Menteri Singapura. Fokus dan dukungan pemerintahnya besar,” kata Darmono.

Menurutnya, model G2G yang kemudian diturunkan ke level business to business (B2B) membuat investor merasa lebih aman dan percaya untuk berinvestasi jangka panjang.

Selain Kendal, kawasan industri Batang juga disebut sebagai harapan baru industri nasional. Kawasan ini dibangun langsung oleh pemerintah dan dinilai mampu menjawab kebutuhan pasar yang mendesak saat Indonesia kekurangan lahan industri siap pakai.

“Batang dan Kendal sekarang bisa dibilang primadona Indonesia di bidang kawasan industri,” ujar Darmono.

Ia menilai pemerintah kini sudah memiliki benchmark kawasan industri yang sukses untuk direplikasi dan dimodifikasi di daerah lain agar daya saing investasi nasional semakin meningkat.

Dukungan Pemerintah Jadi Kunci kepercayaan Investor

Darmono menegaskan, kombinasi peran pemerintah sebagai regulator dan pendukung aktif, bersama swasta sebagai operator profesional, akan lebih meyakinkan investor dibandingkan jika sepenuhnya diserahkan ke swasta.

“Untuk jangka panjang, kawasan industri yang didukung kuat oleh pemerintah akan lebih dipercaya oleh investor asing,” pungkasnya.

Komentar