Founder & Direktur Utama PT Jababeka Tbk. (KIJA) Setyono Djuandi Darmono
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Keindahan Pulau Morotai terletak pada pesona alamnya yang luar biasa, terutama keindahan bawah laut dan pantainya yang memukau. Pulau ini juga kaya akan sejarah Perang Dunia II dan memiliki potensi sebagai pusat industri perikanan. Keindahannya tidak kalah dengan Bali, Labuan Bajo, Raja Ampat dan Lombok. Bahkan saking indahnya, Pulau Morotai disebut wisatawan sebagai Maldives-nya Indonesia
Banyak orang yang waras merasa heran mengapa Jababeka mengembangkan pulau terpencil Morotai yang sulit sekali jauh dari mana-mana dan aksesibilitasnya sulit tidak seperti Singapura atau Bali yang dekat dengan pulau Jawa, Sumatera yang padat penduduk dan relatif makmur.
Para pengusaha umumnya mengembangkan projek yang pasti uang segera kembali dalam tiga – lima tahun dan demand permintaan pasar nya jelas .
Banyak pengusaha geleng kepala ketika mendengar ada perusahaan swasta yang mau mengembangkan kawasan terpencil seperti Pulau Morotai di Maluku Utara.
Letaknya jauh dari pusat pasar, penduduknya sedikit, infrastrukturnya minim, dan waktu tempuh dari Jakarta bisa memakan seharian. Secara bisnis, proyek seperti ini sulit masuk hitungan. Kebanyakan investor memilih lokasi di mana uang bisa kembali dalam 3–5 tahun dengan permintaan pasar yang sudah jelas untuk Jakarta, Surabaya, Bali, atau Batam.
Namun, justru di sinilah menariknya Morotai. Tiga presiden Indonesia terakhir SBY, Jokowi, hingga Prabowo tetap menaruh perhatian besar pada pulau ini.
Mereka menandai Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sebuah status yang biasanya disematkan pada wilayah dengan potensi strategis jangka panjang. Pertanyaan yang muncul, apa yang dilihat para negarawan yang tidak dilihat para pebisnis?
Morotai: Geopolitik, Bukan Sekadar Pariwisata
Morotai bukan sekadar pulau indah dengan pantai bak “Maldives-nya Indonesia”. Sejak Perang Dunia II, posisinya sudah vital pangkalannya pernah dipakai pasukan Sekutu sebagai pintu masuk ke Asia.
Lokasinya persis di bibir Samudera Pasifik dekat Jepang, Korea, Taiwan, Filipina, hingga Papua Nugini. Dari sudut pandang geopolitik, Morotai bisa menjadi gerbang strategis Indonesia menuju kawasan Pasifik.
Inilah alasan mengapa pemerintah menaruh status KEK di sana, bukan hanya pariwisata, tapi juga perikanan, logistik, bahkan potensi pertahanan dan perdagangan lintas kawasan.
Visi vs Realitas: Ketika Negara Berpikir Jangka Panjang
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menandatangani awal pengembangan, Jokowi yang melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur dasar dan Presiden Prabowo yang sekarang ikut mendorong. Semuanya dalam memandang Morotai sebagai investasi masa depan Indonesia.
Tetapi tidak semua birokrasi sejalan. Di tingkat pelaksana, baik di pemerintahan maupun di perusahaan pengelola seperti Jababeka, banyak yang masih berpikir dengan kacamata “proyek balik modal cepat”.
Itulah dilema klasik, negarawan melihat puluhan tahun ke depan, birokrat dan pebisnis sering berhitung hanya perkuartal atau perperiode jabatan.
Skeptisisme Investor: Pasar Jauh, Infrastruktur Terbatas
Sejauh ini investor asing masih menunggu jalan raya, listrik, air bersih, hingga bandara di Morotai masih terbatas. Belum lagi cara pandang investor yang selalu melihat “pusat pasar” Indonesia ada di Jawa. Dari sudut mereka, Morotai tampak terlalu jauh.
Investor menunggu ada “first mover” pihak yang berani menanamkan modal lebih dulu, biasanya pemerintah atau perusahaan swasta nasional yang memang ditugaskan negara.
Pelajaran dari Cikarang dan Kendal
Jababeka, yang dipercaya mengelola KEK Morotai, punya rekam jejak membangun kawasan dari nol. Cikarang, yang dulu dipandang skeptis, kini menjadi kota industri terbesar di Asia Tenggara. Kendal, yang awalnya juga diragukan, sekarang sudah ramai dengan masuknya investor internasional berkat kerja sama dengan Sembcorp Singapura.
Apakah Morotai bisa mengikuti jejak itu? Belum tentu. Tantangan jauh lebih besar karena faktor lokasi dan pasar. Tetapi preseden menunjukkan, kawasan yang dulu dianggap “hutan belantara” pun bisa berubah jadi magnet investasi global jika ada konsistensi visi dan eksekusi.
Kesimpulan: Ujian Kesabaran, Visi, dan Keberanian
Proyek Morotai adalah pertaruhan jangka panjang. Ia lebih mirip maraton daripada sprint. Bagi investor yang hanya mencari kepastian pengembalian modal dalam 3–5 tahun, Morotai mungkin tidak menarik. Tetapi bagi negarawan, Morotai adalah simbol pemerataan pembangunan sekaligus kartu geopolitik Indonesia di Pasifik.
Pertanyaannya bukan lagi “mengapa Jababeka mau mengembangkan Morotai?”, melainkan apakah Indonesia, sebagai bangsa, siap bersabar dan konsisten untuk menjadikan pulau kecil yang jauh itu sebagai pintu besar ke masa depan?







Komentar