Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad tegaskan bahwa dengan bersatu, bergerak, dan berjuang, Indonesia bisa menuju bangsa pemenan. Pernyataan itu disampaikan Dasco merespons Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan diturunkannya klasifikasi pasar modal Indonesia, dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
“Di bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri. Kita bersatu, bergerak dan berjuang. Menuju bangsa pemenang,” tulis Dasco dalam Instagram pribadinya, sebagaimana dikutip, Sabtu (24/10).
Sebelumnya, Dasco menebar optimisme dan kepercayaan terhadap Bursa Indonesia, sehingga sejumlah saham perbankan juga telah naik menopang gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bahkan, ia pun menyerukan “buy Indonesia”.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG selama sepekan menguat 4,90 persen. Indeks saham ditutup di level 5.439, naik dari posisi sebelumnya di 5.185 pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang perdagangan pekan 19-23 Oktober 2026, penguatan IHSG diikuti peningkatan aktivitas transaksi saham dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp20,34 triliun.
Sejalan dengan penguatan indeks, kapitalisasi pasar BEI meningkat 4,66 persen menjadi Rp9.583 triliun dari sebelumnya Rp9.157 triliun.
Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang tumbuh 25,42 persen menjadi Rp20,34 triliun. Pada pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp16,22 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami kenaikan 13,80 persen menjadi 1,95 juta kali transaksi, dibandingkan pekan sebelumnya sebanyak 1,72 juta kali transaksi.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian tercatat sebesar 39,96 miliar saham. Angka tersebut berubah 9,39 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 44,10 miliar saham.
Tekanan jual investor asing masih membayangi pasar saham domestik. Selama pekan tersebut, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp6,67 triliun atau setara 369,83 juta dolar AS.
Nilai tersebut lebih besar dibandingkan net sell pada pekan sebelumnya yang mencapai Rp3,19 triliun atau 177,04 juta dolar AS. Dengan demikian, tekanan jual bersih investor asing meningkat sekitar 109,2 persen secara mingguan dalam denominasi rupiah.
Adapun, sebanyak 651 saham atau sekitar 67 persen mengalami kenaikan harga, sedangkan 155 saham atau sekitar 16 persen mengalami penurunan. Sebanyak 157 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Saham yang naik lebih dari 2 persen mencapai 580 emiten, jauh melampaui saham yang terkoreksi lebih dari 2 persen sebanyak 115 emiten. Hal ini mengindikasikan bahwa penguatan harga berlangsung cukup luas dari sisi jumlah saham.
Seluruh indeks sektoral pada perdagangan pekan ini mencatatkan penguatan selama periode pengamatan. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling unggul, dengan kenaikan 9,02 persen.
Sektor energi menyusul dengan penguatan 6,37 persen, sedangkan infrastruktur naik 5,68 persen. Properti dan real estat menguat 5,39 persen, diikuti keuangan sebesar 4,96 persen.
Sektor industri naik 4,39 persen, bahan baku menguat 4,09 persen, barang konsumen nonprimer naik 3,44 persen, barang konsumen primer menguat 3,50 persen, dan kesehatan naik 3,03 persen. Sementara itu, sektor teknologi mencatatkan kenaikan paling kecil, yakni 0,03 persen.







Komentar