Jenderal Tabata ditangkap serta didakwa dengan hal-hal berikut :
• Menerima suap dari CIA.
• Memberikan koordinat tepat Presiden Maduro kepada pasukan khusus AS.
• Secara sistematis menonaktifkan protokol pertahanan anti-pesawat.
• Bertanggung jawab atas kematian 32 personel keamanan yang ditugaskan untuk menjaga Maduro.
Jenderal Tabata adalah teman dekat Maduro, dia tumbuh besar bersama Maduro dan teman yang paling dipercaya.
Demi sekantong dollar, dia menjual negara dan temannya.
Jakarta (B-Oneindonesia.com) – Mayjen Javier Marcano Tabata telah menarik perhatian yang tidak biasa dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu menyusul laporan di media internasional dan regional bahwa ia mungkin telah ditahan atau disingkirkan oleh otoritas Venezuela.
Tabata sebelumnya dianggap sebagai tokoh tepercaya dalam aparat keamanan negara. Dia kini dikaitkan dengan tuduhan ketidaksetiaan yang mencerminkan ketegangan mendalam di dalam struktur kekuasaan Venezuela. Hal itu setelah pasukan Delta Force dapat dengan mudah menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya dari kediamannya di Caracas pada pekan lalu.
Dikutip dari Knowinsiders, Jumat (9/1/2026), Tabata adalah seorang perwira militer senior Venezuela yang naik pangkat selama konsolidasi kekuasaan di bawah Presiden Nicolas Maduro. Dia paling dikenal karena memegang posisi kunci di unit keamanan dan intelijen elite yang bertanggung jawab untuk melindungi kepresidenan dan memantau ancaman internal di dalam angkatan bersenjata.
Menurut beberapa sumber, Marcano Tabata menjabat sebagai kepala Guardia de Honor Presidencial, unit elite yang bertugas menjaga Presiden Maduro dan Istana Kepresidenan. Dia juga dikaitkan dengan peran kepemimpinan di DGCIM, direktorat kontra intelijen militer Venezuela yang berpengaruh.
Menteri Komunikasi dan Informasi Reddy Nanez mengatakan, “Pelaksana Tugas Presiden Rodríguez menunjuk Gustavo Gonzalez Lopez sebagai komandan baru kantor keamanan presiden dan direktur badan intelijen antiterorisme.”
“Pelaksana Tugas Presiden menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi dan loyalitas mantan Wakil Menteri Tabata yang ditunjukkan selama masa jabatannya,” kata Nanez.
Hanya saja, ia tidak memberikan rincian spesifik tentang status Tabata saat ini. Beberapa pihak mengeklaim, Tabata diam-diam bekerja sama dengan Amerika Serikat. Stasiun televisi lokal, TV Venevisión, mengutip seorang pejabat yang terlibat dalam penangkapan Tabata, mengkritik bahwa,
“Tabata tidak hanya mengabaikan tugasnya tetapi juga menjual kedaulatan kepada penawar tertinggi, Amerika Serikat.”
Laporan menunjukkan, surat perintah penangkapan mungkin akan dikeluarkan untuk mantan kepala Kantor Keamanan Presiden tersebut.
Sebelumnya, Nicolas Maduro Guerra, putra Presiden Venezuela Maduro sekaligus anggota Majelis Nasional, mengisyaratkan dalam pesan audio yang diunggah di media sosialnya, seseorang membocorkan informasi kepada pihak AS selama penangkapan ayahnya.
“Sejarah akan menunjukkan siapa pengkhianatnya.” kata Guerre yang dikaitkan dengan tudingan seseorang merujuk Tabata sebagai penjual informasi.
Menurut media lokal, Gustavo Gonzalez Lopez ditunjuk sebagai kepala baru Kantor Keamanan Presiden Venezuela. Lopez sebelumnya menjabat sebagai dirjen Dinas Intelijen Nasional Bolivarian (SEBIN). Di tengah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi, Lopez dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa (UE) dan dikenal dekat dengan Mendagri, Kehakiman, dan Perdamaian Diosdado Cabello, yang merupakan “orang kepercayaan garis keras Maduro.”







Komentar