Jakarta(B-Oneindonesia.com) – Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sebanyak 10 tokoh di Istana Negara, Kota Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Dasar hukum penganugerahannya adalah Keputusan Presiden Nomor 116TK Tahun 2025.
Salah satu tokoh penerima adalah Sarwo Edhie Wibowo. Ia merupakan ayah dari Kristiani Herrawati dan ayah mertua dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Mewakili ahli waris keluarga dalam seremoni hari ini adalah cucu Sarwo Edhie, yakni Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Kisah inspiratif Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo, sosok kunci penumpasan G30S yang kini resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
-AHY berterima kasih atas gelar Pahlawan Nasional untuk kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo.
-Sarwo Edhie berjasa besar menumpas G30S/PKI saat Kepala RPKAD (1964-1967).
-Gelar ini menghormati pengabdian Sarwo Edhie sebagai prajurit TNI berprinsip.
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Agus Harimurti Yudhyono (AHY) mewakili keluarga Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyapaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan Sarwo Edhie Wibowo sebagai Pahlawan Nasional.
Sarwo Edhie merupakan mertua dari SBY atau kakek AHY. Sarwo Edhie pernah menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD), sekarang bernama Kopassus pada tahun 1964-1967.
“Tentu kami, termasuk Pak SBY juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada negara kepada Pak Presiden dan pemerintah yang telah menganugerahkan pahlawan nasional ini dan beliau juga tentunya terharu, bersuka cita, karena beliau juga sangat dekat (dengan Sarwo Edhie),” kata AHY saat menerima penanugerahan gelar pahlawan nasional sebagai ahli waris Sarwo Edhie di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (10/11/2025).
Menurut dia, gelar pahlawan ini sebuah kehormatan luar biasa atas jasa dan pengabdian Sarwo Edhie selama menjadi prajurit TNI. AHY menyebut sang kakek memiliki peran dan jasa penting dalam pemberantasan gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) saat menjabat Kepala RPKAD.
“Dan ketika itu, beliau memiliki jasa yang penting dalam pemberantasan G30S/PKI. Ini sudah tentunya menjadi pengingat kepada kami semua keluarga besar dan generasi penerus untuk bisa melanjutkan segala legacy dan sekaligus cita-cita dan nilai-nilai perjuangan beliau semasa hidupnya,” jelasnya.
AHY juga berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang masih mengenang dan memuliakan Sarwo Edhie. Dia menceritakan sang kakek merupakan figur yang sederhana dan memiliki prinsip kuat dalam kepemimpiman.
“Beliau selalu mengajarkan kepada kami semua, beliau adalah seorang tokoh yang seorang figur yang sederhana tetapi memiliki nilai dan prinsip yang kuat baik dalam kepemimpinan maupun dalam memaknai kehidupan,” tutur dia.
“Beliau selalu mengajarkan kepada kami anak cucunya untuk terus menegakkan kebenaran di atas jalan Tuhan. Itu kalimat yang selalu terkenal dalam hati dan pikiran kami semua,” sambung AHY.
Peran Krusial
Sarwo Edhie memainkan peran krusial dalam menghentikan dan menumpas G30S/PKI. Ia memimpin langsung operasi penumpasan di Jakarta dan Jawa Tengah.
Sarwo Edhie diberi tugas melenyapkan anggota PKI di lahan subur komunis di Jawa Tengah. Pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 10 tokoh menjadi Pahlawan Nasional. Penetapan ini merupakan penghargaan dan penghormatan tertinggi dari negara atas jasa-jasa mereka yang luar biasa untuk kepentingan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Adapun penetapan 10 tokoh tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Selain Sarwo Edhie, pemerintah juga menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sembilan tokoh lainnya. Berikut daftar 10 penerima gelar pahlawan nasional tahun ini:
1. Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid dari Provinsi Jawa Timur;
2. Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto dari Provinsi Jawa Tengah;
3. Almarhumah Marsinah dari Provinsi Jawa Timur;
4. Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja dari Provinsi Jawa Barat;
5. Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah dari Provinsi Sumatera Barat;
6. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dari Provinsi Jawa Tengah;
7. Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin dari Provinsi Nusa Tenggara Barat;
8. Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil dari Provinsi Jawa Timur;
9. Almarhum Tuan Rondahaim Saragih dari Provinsi Sumatra Utara; dan
10. Almarhum Zainal Abidin Syah dari Provinsi Maluku Utara.







Komentar